Jajaran direksi Surya Pertiwi. (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)
Jajaran direksi Surya Pertiwi. (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)

Emiten Toto Bayar Dividen Rp102,6 Miliar

Ekonomi emiten
Ilham wibowo • 24 Mei 2019 15:11
Jakarta: Emiten perdagangan dan agen tunggal saniter merek TOTO, PT Surya Pertiwi Tbk, memberikan dividen tunai kepada pemegang saham sebesar Rp102,6 miliar. Jumlah tersebut merupakan 50,3 persen dari laba bersih tahun buku 2018.
 
"Pembagian dividen sebesar Rp102,6 miliar atau 50,3 persen dari laba bersih tahun buku 2018 akan dibagikan sebagai dividen tunai," kata Direktur Surya Pertiwi Irene Hamidjaja dalam paparan publik di Wisma 81 TOTO Office Building, di Jalan Letjen S Parman, Jakarta Barat, Jumat, 24 Mei 2019.
 
Irene memaparkan para investor akan memperoleh dividen tunai sebesar Rp38 untuk setiap saham tahun buku 2018. Adapun dividen interim perseroan sebesar Rp20 per saham telah dibagikan di Desember 2018. Sementara sisa deviden sebesar IDR18 per saham akan dibagikan secara bertahap dengan memperhatikan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) dan peraturan perpajakan yang berlaku.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), kata Irene, juga menyetujui pemberian remunerasi bagi anggota dewan komisaris perseroan untuk tahun buku 2019 sebanyak-banyaknya Rp2,4 miliar. Ia memastikan perseroan akan terus melanjutkan usaha dalam bidang industri peralatan saniter dari porselen, industri furnitur dari kayu, industri furnitur lainnya, pengerjaan lantai, dinding, peralatan saniter dan plafon, dan real estat yang dimiliki sendiri atau disewa.
 
Irene optimistis prospek perusahaan akan terus berjalan positif seiring perekonomian Indonesia diprediksikan terus stabil di 2019 dengan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,3 persen. Sektor properti diharapkan akan terus membaik dan melanjutkan momentumnya dari paruh kedua di 2018 yang akan memicu kenaikan pendapatan.
 
"Kami percaya pembagian atau jumlah dividen akan tetap tinggi, dikarenakan posisi keuangan Perseroan masih bagus, yaitu diposisi net cash saat ini," ungkapnya.
 
Pendapatan neto kuartal pertama 2019 perusahaan berkode emiten SPTO ini masih tercatat turun 6,1 persen ke Rp578,9 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kelemahan tersebut disebabkan oleh pendapatan dari proyek yang turun 30,5 persen yoy.
 
Meski demikian, laba kotor naik 8,4 persen yoy menjadi Rp156.1 miliar dan gross margin juga meningkat menjadi 27,0 persen. Laba neto juga tetap naik 25.9 persen yoy ke angka Rp66.1 miliar yang ditopang oleh tidak adanya kerugian kurs sebesar Rp7.4 miliar di kuartal pertama 2018.
 
SPTO berharap tahun ini bisa memenuhi persyaratan PP Nomor 56 Tahun 2015 tentang Penurunan Tarif Pajak Penghasilan Bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri yang berbentuk perseroan terbuka. Tarif pajak perseroan yang bisa turun dari 25 persen di 2018 menjadi 20 persen di 2019 diharapakan bisa menambah dampak positif.
 
Lebih lanjut, dari sisi anak perusahaan yakni PT Surya Pertiwi Nusantara (SPN), perseroan mengestimasi akan membeli 600 ribu unit sanitary wares tahun ini yang lebih besar dibandingkan pada tahun lalu sebanyak 400 ribu unit. Diharapkan gross marjin perseroan akan meningkat lantaran adanya tambahan marjin manufaktur.
 
Sementara dari sisi anak perusahaan lain yakni PT Surya Graha Pertiwi (SGP), perseroan mengestimasi akan mendapat pendapatan sewa selama setahun penuh tahun ini sehingga dapat mendorong pendapatan bersih dan laba neto konsolidasian.
 
"RAPBN 2019 memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan tetap stabil tahun ini di level Rp14.400 per USD. Perseroan mengestimasi tahun ini tidak ada kerugian valas yang besar dibandingkan 2018 sebesar Rp18 miliar," tuturnya.
 
Sementara itu, pendapatan neto perseroan pada 2018 tercatat sebesar Rp2,27 triliun atau naik 5,9 persen yoy yang didorong oleh kenaikan volume penjualan. Laba bruto tercatat naik 9.6 persen ke Rp560 miliar dibandingkan tahun sebelumnya, dan gross margin naik ke 24,776, digenjot oleh pendapatan anak perusahaan.
 
Laba usaha 2018 tercatat membaik dua persen yoy sebesar Rp292,9 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara laba neto turun 7,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya ke Rp204 miliar, disebabkan oleh kerugian kurs sebesar Rp18 miliar.
 
"Utang bank pada 2018 berkurang signifikan dibandingkan tahun lalu, dikarenakan Perseroan menggunakan sebagian dan hasil IPO untuk membayar utang," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif