<i>Return</i> Tinggi, Kenapa Harus IPO di Luar Negeri?
Ilustrasi. (Foto: Antara/Andika Wahyu).
Jakarta: Pasar modal Indonesia memberikan return atau imbal hasil yang sangat menguntungkan bagi perusahaan maupun pelaku pasar. Oleh karena itu sangat disayangkan bila calon emiten lebih memilih listing (IPO) di luar negeri ketimbang di bursa Indonesia.

"Dari sisi return kita juga cukup superior bila dibandingkan yang lain. Jadi tidak relevan, kalau masih mau listing di bursa lain," ucap Kepala Divisi Pengembangan Calon Emiten BEI Umi Kulsum, di Gedung BEI, Jakarta, Rabu, 14 Februari 2018.

Jika reputasi perusahaan baik, tambahnya, maka tidak ada hambatan untuk perusahaan menjalankan IPO. "Bicara masalah reputasi dan eksposure, sebenarnya bisa langsung transaksi di bursa, tanpa ada hambatan. Sebenarnya enggak ada isu itu. Perusahaan tetap dilayani dengan baik," jelas Umi.

Pada tahun ini, Umi menyebutkan, bursa masih optimistis bisa merangkul 35 perusahaan untuk menjadi emiten di bursa. Dari posisi saat ini baru resmi satu emiten yang masuk bursa.

Terkait sisi valuasi perusahaan yang ingin IPO, Umi pun tidak menjelaskan secara detail. Dirinya mengimbau untuk menanyakan langsung kepada penjamin emisi (underwriter). "Tanya ke underwriter," kata dia singkat.

Pada kuartal I tahun ini telah ada satu perusahaan yang menjadi emiten baru di bursa yakni PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM).

Sementara itu delapan perusahaan yang bisa IPO di kuartal I di tahun ini yakni ‎PT BTPN Syariah Tbk, PT Sky Energy Indonesia Tbk, PT Borneo Olah sarana Sukses Tbk, PT Indah Prakasa Sentosa Tbk, PT Tridomain Performance Material Tbk, PT Jaya Trishindo Tbk, PT Artajasa Pembayaran Elektronis Tbk, dan PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk.



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id