Demi Rupiah, Masyarakat Wajib Mencintai Produk Indonesia

Ilham wibowo 10 September 2018 19:35 WIB
kurs rupiah
Demi Rupiah, Masyarakat Wajib Mencintai Produk Indonesia
Illustrasi. MI/Atet Dwi Pramadia.
Jakarta: Bank Indonesia (BI) bakal terus fokus  mengawasi tren pelemahan nilai tukar rupiah menghadapi situasi ketidakpastian ekonomi global. Sejumlah langkah telah diambil mulai dari kebijakan moneter, kebijakan mitigasi serta  kebijakan menaikkan suku bunga.

"Situasi yang kita hadapi memang situasi yang belum pasti, kita harus selalu waspada," ujar Kepala Departemen Internasional Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertema "Bersatu untuk Rupiah" di kantor Kemkominfo, Jakarta, Senin, 10 September 2018.

Ia menegaskan, BI dan pihak pemerintah maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berkoordinasi tanpa henti. Langkah stabilisasi ekonomi dalam negeri perlu dilakukan dalam momentum yang cepat.

"Kita sarankan masyarakat tetap tenang,  ikut konversikan uang kita ke valas, menggunakan produk dalam negeri, lalu untuk liburan keluar negeri kurangi dahulu," ujarnya.

Gaya hidup yang cenderung memanfatkan produk  impor secara berlebihan dinilai bakal menguras cadangan devisa negara. Kondisi ini bakal berdampak buruh di tengah tekanan global yang turut mempengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah.

"Intinya, tolong berbagai pihak masyarakat membantu mencoba mengurangi dominasi dolar," ungkapnya.

Doddy menjelaskan ada beberpa hal yang menyebabkan terjadinya situasi ketidakpastian ekonomi global saat ini. Pertumbuhan ekonomi dunia yang berat sebelah dengan menguatnya peran Amerika Serikat (AS) turut menjadi pemicunya.

"Ekonomi dunia pertumbuhannya berat sebelah. Ibarat pesawat, hanya satu mesin yang menggerakan karena ekonomi Amerika yang kuat semantara negara lain melemah sehingga investor ragu dengan ketahanan ekonomi dunia," paparnya.

Kenaikan suku bunga bank sentral AS juga menjadikan USD kian perkasa di belahan negara dunia. Kondisi ini juga diperparah dengan konflik diplomasi dalam pernah dagang.

"Terakhir adalah memang beberapa negara berkembang sedang mengalami masalah yang banyak bersumber manajemen ekonominya kurang pas," pungkasnya.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id