Ilustrasi. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)

Investor Diimbau Wait and See

Ekonomi ihsg amerika serikat
Nia Deviyana • 24 Desember 2018 13:17
Jakarta: Shutdown pemerintahan Amerika Serikat berpotensi meningkatkan ketidakpastian bagi investor global sehingga berdampak pada pengalihan dana dari pasar modal ke aset yang lebih aman (safe haven). Hal ini diprediksi berimbas pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
 
"Dalam sepekan terakhir IHSG terkoreksi tipis sebesar 0,1 persen, sehingga investor, khususnya asing akan berjaga-jaga terhadap kemungkinan shutdown berlanjut lebih lama," kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara saat dihubungi Medcom.id, Senin, 24 Desember 2018.
 
Bhima menyarankan para investor untuk wait and see. Karena setelah shutdown berakhir, harga saham biasanya akan tinggi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sebaiknya di hold dulu kalau mau jual saham, karena selesai shutdown, (harga)saham bisa kembali rebound. Tapi kalau yang saya lihat untuk shutdown kali ini efeknya tidak terlalu besar," tambah dia.
 
Adapun saham yang masih layak dikoleksi di tengah kondisi ekonomi global yang tak menentu, antara lain saham rokok, pertambangan, dan consumer goods.
 
"Dalam tiga bulan ini harga emas global naik 4,98 persen, tambang emas kecipratan untung. Harga saham migas juga masih gain, leading-nya PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) naik 2,86 persen," pungkasnya.
 
Penutupan pemerintahan sementara di AS dimulai pada Sabtu dini hari, 22 Desember 2018. Shutdown ini dilakukan usai Kongres menunda kesepakatan persetujuan dana untuk membangun tembok perbatasan.
 
"Semoga penutupan pemerintahan ini tidak akan berlangsung lama," kata Presiden AS Donald Trump, dikutip dari AFP.
 
Trump menuntut USD5,7 miliar atau sekitar Rp82,9 triliun yang disahkan Dewan Perwakilan Rakyat. Namun, sepertinya akan ditolak di Senat yang dikuasai Demokrat.
 
Penutupan pemerintah AS bukan yang pertama kali terjadi. Di era Trump, pemerintahan ditutup sebanyak tiga kali setahun. Penutupan pertama terjadi pada Januari lalu. Shutdown dilakukan usai para senator gagal mencapai kesepakatan terkait dana operasional pemerintah.
 
Selang sebulan berikut, tepatnya pada Februari 2018, Pemerintahan AS lagi-lagi mesti tutup setelah seorang politikus konservatif di Senat sengaja menunda langkah Kongres menyepakati anggaran sementara.
 
Pemerintahan Trump akan terus shutdown hingga batas waktu tak ditentukan. Ratusan ribu pegawai pemerintahan 'dipaksa' bekerja tanpa dibayar jelang Natal. Trump juga membatalkan liburan Natal ke Florida karena insiden ini. Gedung Putih mengatakan dia akan tetap berada di Washington hingga ada kesepakatan.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif