Ilustrasi. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)

Pelemahan Rupiah Diyakini hanya Sementara

Ekonomi kurs rupiah Perang dagang
15 Mei 2019 11:08
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan disebabkan kondisi eksternal yang saat ini sedang tidak kondusif. Keadaan itu berpotensi bisa merugikan negara-negara emerging market seperti Indonesia.
 
"Jika situasi eksternal sedang tidak kondusif, itu bisa merugikan negara-negara emerging market termasuk Indonesia. Ya seperti tahun lalu," katanya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa, 14 Mei 2019.
 
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan akhir-akhir ini. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Selasa, 14 Mei, rupiah berada di angka Rp14.444 per USD. Adapun pada Senin, 13 Mei berada di angka Rp14.362 per USD.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam pandangan ekonom dari Bank Permata Josua Pardede, pelemahan nilai tukar rupiah bersama sebagian besar mata uang Asia dan mata uang utama lainnya dipengaruhi memanasnya tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok, setelah Jumat, 10 Mei lalu pemerintah AS memberlakukan penaikan tarif impor produk Tiongkok.
 
Apalagi berikutnya dibarengi langkah balasan pemerintah Tiongkok yang juga berencana memberlakukan penaikan tarif impor produk AS sebesar USD60 miliar.
 
Hal tersebut kemudian mendorong pelemahan tajam mata uang yuan Tiongkok di pasar offshore sebesar 0,97 persen ke level 6,9121, yang pada umumnya memberikan sentimen negatif pada seluruh mata uang Asia.
 
"Berlanjutnya perang dagang kedua negara itu akan berpotensi mendorong perlambatan ekonomi global dan menekan laju pertumbuhan volume perdagangan global," kata Josua.
 
Meski begitu, Josua menyatakan sejauh ini pelemahan rupiah kali ini hanya bersifat sementara. Pasalnya, saat ini pelemahan tersebut didukung faktor musiman permintaan dolar yang meningkat serta sentimen negatif dari eksternal.
 
"Rupiah akan cenderung menguat ketika sentimen perang dagang mereda dan ditopang perbaikan defisit transaksi berjalan," tutupnya. (Media Indonesia)
 

(AHL)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif