Ilustrasi (MI/RAMDANI)
Ilustrasi (MI/RAMDANI)

Rupiah Pagi Libas Dolar AS

Ekonomi kurs rupiah
Angga Bratadharma • 23 Januari 2019 09:01
Jakarta: Gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu pagi terpantau menguat dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp14.220 per USD. Sejauh ini, masuknya arus modal ke Tanah Air terus memacu rupiah menyusuri area positf.
 
Mengutip Bloomberg, Rabu, 23 Januari 2019, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka perkasa di Rp14.195 per USD. Day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.195 hingga Rp14.200 per USD dengan year to date return di 1,32 persen. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.982 per USD.
 
Sementara itu, indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun tipis 0,03 persen menjadi 96,30 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1362 dari USD1,1369 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2956 dari USD1,2888 pada sesi sebelumnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dolar Australia turun menjadi USD0,7118 dibandingkan dengan USD0,7158. Dolar AS dibeli 109,29 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 109,64 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9970 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9976 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3349 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3293 dolar Kanada.
 
Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup 301,87 poin atau 1,22 persen lebih rendah menjadi 24.404,48 poin. Indeks S&P 500 berkurang 37,81 poin atau 1,42 persen menjadi berakhir di 2.632,90 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 136,87 poin atau 1,91 persen menjadi ditutup di 7.020,36 poin.
 
Saham Johnson & Johnson, pembuat produk perawatan kesehatan terbesar di dunia, turun hampir 2,00 persen, karena perkiraan penjualannya untuk 2019 meleset dari ekspektasi analis, meskipun hasil labanya lebih kuat dari perkiraan untuk kuartal keempat 2018.
 
Saham Stanley Black & Decker, produsen alat industri dan perangkat keras rumah tangga AS, jatuh lebih dari 15 persen, karena perusahaan merevisi lebih rendah perkiraan labanya pada 2019 di tengah banyaknya hambatan eksternal, yang jauh dari ekspektasi pasar.
 

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi