Harga Minyak Dunia yang Stabil Diperkirakan Membebani Rupiah

Angga Bratadharma 02 Mei 2018 09:20 WIB
kurs rupiah
Harga Minyak Dunia yang Stabil Diperkirakan Membebani Rupiah
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta: Dolar Amerika Serikat (USD) diperkirakan bergerak menguat ke level 92.0-93.0 seiring kuatnya data Personal Consumption Expenditure (PCE) di Amerika Serikat (AS) sesuai dengan konsensus sebesar dua persen. Hal tersebut mendorong kenaikan imbal hasil treasury AS 10 tahun sebanyak satu bps ke level 2,96 persen.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail mengatakan kemungkinan naiknya tingkat suku bunga the Fed dan harga minyak dunia yang stabil di atas USD72 per barel diperkirakan turut membebani gerak nilai tukar rupiah. Tentu diharapkan sejumlah sentimen positif bisa terus berdatangan dan memberi kekuatan bagi nilai tukar rupiah.

"Rupiah kemungkinan bergerak di rentang Rp13.900 sampai dengan Rp14.000 per USD," ungkap Ahmad Mikail, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Rabu, 2 Mei 2018.



Sedangkan imbal hasil treasury AS bergerak naik. Imbal hasil US treasury jangka menengah (10 tahun) dan panjang di AS (30 tahun) pada Selasa naik sebanyak satu bps ke level 2,96 persen dan 3,13 persen. Kuatnya data inflasi di AS dorong kenaikan tersebut.

Harga minyak WTI dan gas kemarin masing-masing bergerak sedikit melemah sebesar -0,27 persen (USD67,02 per barel) dan -0,07 persen (2,80 per MMBtu) didorong ketidakpastian terhadap sanksi yang akan dikenakan terhadap Iran dan naiknya suplai minyak AS.

Setelah cenderung menurun di awal, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan naik kembali. Melemahnya rupiah dan naiknya imbal hasil treasury AS diperkirakan dorong kenaikan imbal hasil SUN. Imbal hasil SUN seri acuan 10 tahun kemungkinan begerak di rentang 6,95 persen sampai 7,1 persen.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id