Direktur Utama BEI Inarno Djajadi. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
Direktur Utama BEI Inarno Djajadi. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Jumlah Pencatatan Efek Baru di 2019 Belum akan Direvisi

Ekonomi bursa efek ojk bei
Annisa ayu artanti • 23 Agustus 2019 19:21
Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum akan merevisi target jumlah pencatatan efek baru ke pasar modal. Kedua otoritas tersebut masih berharap target 75 pencatatan efek baru selama 2019 akan tercapai.
 
Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan 75 pencatatan efek tersebut termasuk pencatatan saham baru lewat aksi IPO (Initial Public Offering), DINFRA (Dana Investasi Infrastruktur), DIRE (Dana Investasi Real Estat), dan ETF (Exchane Traded Fund).
 
"IPO target kita masih tetap 75 emiten," kata Inarno saat konferensi pers di JCC, Senayan, Jakarta, Jumat, 23 Agustus 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Per hari ini, Inarno menyebutkan jumlah perusahaan tercatat sebanyak 32 perusahaan termasuk didalamnya satu DINFRA, dua DIRE, dan lima ETF.
 
"Dilihat sampai Agustus kita optimistis sampai akhir tahun 75," sebut dia.
 
Melihat lima tahun terakhir, Inarno melanjutkan pertumbuhan perusahaan tercatat di BEI sebesar 25,3 persen. Angka ini di atas negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia masing-masing baru sebesar 16,2 persen dan 1,4 persen. Sementara Singapura tercatat negatif 4,8 persen.
 
Sedangkan dari sisi kinerja perusahaan juga menunjukkan kinerja yang bagus. Aset perusahaan tercatat tumbuh 8,67 persen dari Rp9.800 triliun pada Juni 2018 menjadi Rp10.700 triliun pada 2019.
 
Ekuiti juga tumbuh 9,31 persen dari Rp2.700 triliun pada Juni 2019 menjadi Rp2.950 triliun pada Juni 2019. Sedangkan pendapatan tumbuh sebesar 5,91 persen dari Rp1.569 triliun pada Juni 2019 menjadi Rp1.661 triliun pada Juni 2019. Sementara untuk profit perusahaan tercatat pada Juni 2018 sebesar Rp182,32 triliun, tumbuh 0,16 persen menjadi Rp172,57 triliun pada Juni 2019.
 
"Walaupun ada gejolak di luar, dari profitnya masih menunjukkan sisi yang positif," ujar dia.
 
Di tempat yang sama, Dewan Komisioner Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen menambahkan pihaknya masih menunggu sampai kuartal III-2019 sebelum menentukan akan merevisi target pencatatan efek di 2019. Otoritas masih optimistis dengan pipeline yang ada.
 
"Secara official kita belum menurunkan target, nanti selesai triwulan III seperti apa, saat ini kita masih punya beberapa pipeline dan kita lihat nanti di September ada yang masuk atau tidak, target secara resmi masih tetap sama, termasuk juga nilainya," tukas Hoesen.
 
Sebelumnya, data BEI menunjukan masih ada 16 perusahaan yang mengantre untuk masuk ke pasar modal. 16 perusahaan tersebut adalah:
1. PT Ifishdeco.
2. PT Dana Brata Luhur.
3. PT Itama Ranoraya.
4. PT Kencana Energi Lestari.
5. PT Bhakti Agung Propertindo.
6. PT Telefast Indonesia.
7. PT Trinitan Metals and Minerals.
8. PT Meka Adipratama.
9. PT Optima Prima Metal Sinergi.
10. PT Gaya Abadi Sempurna.
11. PT Saraswanti Anugerah Makmur.
12. PT Dyntal Tatapersada Sampurna.
13. PT Nusantara Almazia.
14. PT Gunung Raja Paksi.
15. PT Alamanda Investama.
16. PT Digitama Mediatama Maxima.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif