Menko Perekonomian Darmin Nasution. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
Menko Perekonomian Darmin Nasution. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Nyaris di Bawah Rp14 Ribu/USD, Rupiah Masih Undervalued

Ekonomi kurs rupiah
Husen Miftahudin • 07 Januari 2019 19:03
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut nilai tukar rupiah masih terbilang murah (undervalued). Meski, mata uang Garuda diprediksi akan terus mengalami penguatan.

"(Rupiah) enggak menguat otomatis karena dunia ini kan gonjang-ganjing juga, kadang-kadang begini, kadang-kadang begitu. Tapi pelan-pelan dia arahnya akan (menguat), ini masih (undervalued)," ujarnya singkat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng Timur, Jakarta Pusat, Senin, 7 Januari 2019.

Di awal pekan, Senin pagi, 7 Januari 2019, rupiah menguat tajam bahkan nyaris di bawah Rp14 ribu per USD. Mengutip Bloomberg, mata uang Garuda menguat 177,5 poin atau setara 1,24 persen ke posisi Rp14.092 per USD.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Penguatan terus berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Di hari ini, rupiah dibuka di posisi Rp14.177 per USD dan ditutup di posisi Rp14.082 per USD atau menguat 187,5 poin setara 1,31 persen. Padahal menilik gerak rupiah di perdagangan awal tahun, Rabu, 2 Januari 2019, rupiah melempem. Rupiah di perdagangan pagi tertekan ke Rp14.446 per USD dengan day range nilai tukar berada di kisaran Rp14.439 hingga Rp14.446 per USD dan year to date return di 0,35 persen.

Namun demikian, gerak nilai tukar rupiah di hari-hari berikutnya justru perkasa. Bahkan keperkasaannya kian terasa hingga penutupan perdagangan di akhir pekan pertama 2019, Jumat, 4 Januari 2019, rupiah melejit ke posisi Rp14.270 per USD.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual memprediksi nilai tukar rupiah bisa menyentuh level Rp13 ribu per USD. Ada beberapa faktor penguatan rupiah, sebut dia, di antaranya aksi rebalancing portofolio yang dilakukan investor serta perkembangan positif kondisi eksternal.

Faktor eksternal yang menjadi pemicu penguatan rupiah, lanjutnya, adalah pernyataan Gubernur The Federal Reserve, Jerome Powell. Gubernur bank sentral AS itu menyebut The Fed tahun ini tidak akan terlalu agresif dalam mengambil keputusan kebijakan moneter.

"Rupiah trennya masih menguat. Dan awal tahun biasanya ada January effect, jadi investor me-rebalancing portofolionya dan mereka kembali rich on, kembali positif terhadap aset di emerging market, termasuk rupiah," tegas David.

 


(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi