Suku Bunga Naik, IHSG Bakal Menyesuaikan Gejolak di Pasar Modal
Ilustrasi. (Foto: Antara/Fanny).
Jakarta: Bank Indonesia (BI) telah mengerek suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 bps atau 0,25 persen menjadi 4,5 persen. Penaikan ini dinilai membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menyesuaikan gejolak di pasar modal.

‎Demikian disampaikan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio, ditemui di Gedung BEI, SCBD Sudirman, Jakarta, Jumat, 18 Mei 2018.

"Saya happy hanya 0,25 persen. Buat saya ini penyesuaian dari dampak yang terjadi. Kalau dampaknya sudah terjadi, maka penyesuaian juga harus dilakukan," kata Tito.

Dia mengatakan turun naiknya rupiah belakangan ini tidak terlalu berdampak kepada indeks. Depresiasi rupiah belakangan ini karena menunggu kepastian suku bunga.

"Tidak bisa dilihat dari itu, bursa tidak bisa stand alone karena kejadiannya adalah kita sampai 19 Februari lalu, masih naik gila-gilaan, padahal rupiah sudah melemah," ujar Tito.

Menurut Tito, isu domestik dan global lebih banyak berdampak ke indeks ketimbang penyusutan rupiah yang telah berada di diatas Rp14.000 per USD.

"Yang jadi sangat lemah perdagangan, itu adanya perang dagang dan uncertainty yang terjadi. Itu semua yang mempengaruhi (pasar). Jadi, persepsinya seperti itu," ‎pungkas dia.

Satu hari lalu, BI resmi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,5 persen. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh bank sentral sebelumnya, bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Bank Indonesia juga melanjutkan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan mendorong sesuai fundamental pasar," kata Gubernur BI Agus Martowardojo.

Agus mengaku, apa yang dilakukan oleh bank sentral masih akan sejalan dengan upaya mencapai inflasi untuk tahun ini. Bahkan BI meyakini langkah ini akan mampu menjaga rupiah dari tekanan eksternal.

"Bank Indonesia memandang bauran kebijakan yang ditempuh sebelumnya dan respons saat ini konsisten menjaga inflasi tetap sejalan dengan sasaran 3,5 plus minus satu persen pada 2018, serta mengelola ketahanan sektor eksternal," jelas Agus.

Selanjutnya bank sentral akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makro prudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas makro ekonomi, stabilitas sistem keuangan seiring dengan pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id