Rupiah Pagi Dibuka Menguat di Rp14.165/USD
Ilustrasi (MI/SUSANTO)
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Selasa pagi terlihat menguat dibandingkan dengan penutupan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp14.190 per USD. Secara perlahan, nilai tukar rupiah mulai menjauhi level Rp14.200 per USD.

Mengutip Bloomberg, Selasa, 22 Mei 2018, nilai tukar rupiah perdagangan pagi dibuka menghijau ke Rp14.165 per USD. Sedangkan day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.164 hingga Rp14.173 per USD dengan year to date return di 4,68 persen. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.957 per USD.

Sementara itu, indeks Dow Jones naik 1,21 persen menjadi berakhir di 25.013,29 poin. Kemudian indeks S&P 500 bertambah 0,74 persen menjadi ditutup di 2.733,01 poin. Sementara indeks Komposit Nasdaq berakhir meningkat 0,54 persen menjadi 7.394,04 poin.



Kemudian, patokan Amerika Serikat, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Juni harganya naik sebanyak USD0,96 menjadi menetap di USD72,24 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara minyak mentah Brent, untuk pengiriman Juli harganya naik USD0,71 menjadi ditutup pada USD79,22 per barel.

Tiongkok dan Amerika Serikat telah mengeluarkan pernyataan bersama pada akhir pekan lalu dan berjanji untuk tidak meluncurkan perang dagang terhadap satu sama lain. Kesepakatan perdagangan yang dicapai memberi efek positif terutama dari sisi perdagangan dunia.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan Amerika Serikat dan Tiongkok telah mencapai kesepakatan tentang kerangka hubungan ekonomi dan perdagangan mereka, dan kedua belah pihak telah sepakat untuk menunda kemungkinan perang dagang. Dia menambahkan kedua pihak akan melanjutkan komunikasi mereka tentang masalah-masalah perdagangan.

Para analis mencatat berkurangnya ketegangan perdagangan Amerika Serikat dan Tiongkok kemungkinan membantu saham-saham produsen cip terbesar. Sementara itu, USD yang kuat merupakan hambatan pasar saham dan dapat menimbulkan ancaman bagi pertumbuhan laba emiten, kata para ahli.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id