Illustrasi. MI/Adam Dwi.
Illustrasi. MI/Adam Dwi.

Emiten Masih Abai Terapkan Standar Akuntansi Keuangan

Ekonomi emiten
Ilham wibowo • 02 Mei 2019 16:21
Jakarta: Emiten atau perusahaan tercatat di bursa efek cenderung mengabaikan Pernyataan penerapan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71, 72 dan 73. Padahal, instrumen standar audit keuangan baru yang wajib digunakan mulai 1 Januari 2020 itu perlu dipersiapkan jauh-jauh hari.
 
Standar akuntansi tersebut diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) dengan mengadopsi International Financial Reporting Standars (IFRS). Sistem ini menjadi acuan pasar global lantaran mengacu pada International Accounting Standard Board (IASB).
 
Adapun standar yang dibuat DSAK tersebut yakni PSAK 71 (IFRS 9) tentang Instrumen Keuangan, PSAK 72 (IFRS 15) tentang Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan, dan PSAK 73 (IFRS 16) tentang Sewa. Seluruh emiten mestinya bisa melakukan penyesuaian karena telah terbit sejak 2017.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami perhatikan selama ini kok sinyal-sinyal dari pihak yang akan terdampak itu belum kami terima, terutama yang 71 karena yang paling prudential," kata Direktur Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa OJK Nur Sigit Warsidi dalam diskusi di Hotel Century Park Senayan, Jakarta, Kamis, 2 Mei 2019.
 
Nur mengatakan OJK sebagai regulator jasa keuangan telah gencar melakukan sosialisasi kepada kalangan emiten maupun pelaku pasar modal. Kewajiban menerapkan sistem ini perlu diawali dengan melakukan mitigasi risiko terhadap potensi masalah yang ditimbulkan selama proses penyesuaian.
 
"Dari awal saya katakan tolong dibaca kembali, respons kalau ada konsentrasi dan coba assesmen dampak pada perusahaan anda sampai kemudian peraturan itu dijadikan suatu yang formal," paparnya.
 
Rentang waktu dua tahun sejak penerbitan dan kewajiban penerapan standar baru ini mestinya dimanfaatkan dengan baik. Audit keuangan yang akan dihadapi semakin rumit lantaran lebih kompleks.
 
"Berjalan sekian lama kami lihat masih anteng anteng saja. Ada kekhawatiran dari OJK, mereka ini siap enggak sih. OJK sebagai regulator pasar modal ingin segala macam itu teratur dan propert," ungkapnya.
 
Pihak yang abai dalam penerapan sistem PSAK baru ini sudah barang tentu akan terkena sanksi. Namun, sisi manfaat jauh lebih positif lantaran laporan keuangan menggambarkan apa yang terjadi di perusahaan sehingga konsentrasi pada operasional bisa lebih maksimal.
 
"Jangan sampai pada saatnya ada gejolak yang tidak perlu. Seperti ada perubahan yang tidak siap, ada kesalahan interpretasi dalam melaporkan keuangan yang menimbulkan kesalahan, ribut lagi macam-macam sementara yang penting ini tidak dilakukan," tuturnya.
 
Standar PSAK ini berlaku mengikat penuh mulai 1 Januari 2020. Nur menegaskan tidak ada pengecualian bagi emiten yang belum siap menjalankan prosedur baru itu.
 
"Lakukan mitigasi dan perencanaan, komunikasikan dengan organisasi di perusahaan. Kami harapkan implementasi dan pasar modal bisa berjalan dari ketertinggalan," pungkasnya.

 

(SAW)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif