Ilustrasi (MI/RAMDANI)
Ilustrasi (MI/RAMDANI)

Lagi, Perdana Listing Saham Emiten Langsung Auto Reject

Ekonomi emiten ipo
Annisa ayu artanti • 12 Juli 2019 10:39
Jakarta: Harga saham PT Hensel Davest Indonesia Tbk saat pertama kali listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung mengalami auto reject. Berdasarkan pentauan Medcom.id, saham perusahaan fintech ini meningkat 49,52 persen atau 260 poin dari harga penawaran Rp525 per saham menjadi Rp785 per saham.
 
Saat perdagangan awal, emiten dengan kode HDIT ini ditransaksikan sebanyak satu kali dengan volume 10 lot. Dari awal perdagangan tersebut perusahaan memperoleh dana Rp785 ribu. Direktur Penilaian Perusahaa BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, menjadi perusahaan terbuka menuntut perusahaan memulai tahap selanjutnya menjadi bagian dari market sociaty.
 
Perusahaan diminta untuk merealisasikan rencana penggunaan dana IPO dan menjaga reputasi sebagai perusahaan publik serta menjalankan tata kelola perusahaan yang baik.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sebagai perusahaan publik, diharapkan mulai melakukan realisasi dari dana IPO sesuai yang dijanjikan prosepektus. Supaya harapan stakeholder bisa terwujud," kata Nyoman di Gedung BEI, Jakarta, Jumat, 12 Juli 2019.
 
Nyoman menjelaskan, HDIT merupakan perusahaan fintech pertama yang listing di BEI. Artinya, ia menaruh harapan kedepannya perusahaan-perusahaan fintech lain bisa menyusul HDIT, terutama fintech yang berada di daerah timur Indonesia.
 
"Ada misi khusus semoga meningkatkan inklusi keuangan terutama di timur Indonesia. Ada banyak unbankable dan semoga banyak fintech di daerah timur bisa tumbuh," tutur Nyoman.
 
Sementara itu, Direktur Utama HDIT Hendra David menyampaikan, menjadi perusahaan terbuka menjadi batu loncatan perusahaan. "Ini batu loncatan yang besar dan awal bagi perusahaan untuk terus mengembangkan usaha," sebut dia.
 
Adapun beberapa rencana perusahaan dalam penggunaan tersebut adalah sebanyak 65 untuk meningkatan modal kerja davestpay dan kegiatan akuisisi merchant berupa UMKM (warung) dan individu, pembelian persediaan barang dagang, uang muka persediaan barang dagang, dan pembiayaan piutang usaha kepada pelanggan.
 
Lalu sekitar 10 persen akan digunakan untuk meningkatkan teknologi komunikasi informasi Davestpay, pembelian server Davestpay, pengembangan aplikasi Davestpay, peningkatan keamanan sistem server aplikasi Davestpay dan pengembangan sumber daya manusia.
 
Sementara sisanya sebanyak 25 persen akan digunakan untuk pembelian bangunan untuk operasional perusahaan.

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif