Ilustrasi. (FOTO: dok MI)
Ilustrasi. (FOTO: dok MI)

BEI Kembali Layangkan Surat Permintaan Penjelasan ke Garuda

Ekonomi garuda indonesia
Nia Deviyana • 13 Mei 2019 14:11
Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melayangkan surat permintaan penjelasan kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terkait kisruh laporan keuangan tahun buku 2018.
 
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan hal ini dilakukan setelah pihaknya melakukan pertemuan dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK).
 
"Setelah bertemu dengan Ketua DSAK dan membahas apa yang ingin kami gali, kami kirimkan surat permintaan penjelasan tambahan ke Garuda Indonesia," ujar Nyoman saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Pusat, Senin, 13 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nyoman menjelaskan bursa memberikan waktu selama tiga hari kepada Garuda Indonesia yang terhitung sejak Senin, 13 Mei 2019, untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Salah satunya pertanyaan yang diajukan terkait detail tansaksi dengan PT Mahata Aero Teknologi (Mahata) sebesar USD239,94 juta untuk penyediaan layanan wifi dalam penerbangan.
 
"Terutama bagaimana meyakinkan bahwa pengakuan atas hak eksklusif itu bisa diakui sebagai hak eksklusif di periode 2018, atau mesti dilakukan secara proporsional," imbuhnya.
 
Pertemuan dengan DASK, kata Nyoman, bakal menambah referensi bursa dalam mengambil keputusan.
 
"Ini berarti dari DSAK sudah, dari Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) juga sudah, kemudian ada satu sebetulnya P2PK, institusi yang akan mengawai auditor. Nanti saya akan coba konsultasi dulu secara internal. perkembangannya saya sampaikan Rabu," tuturnya.
 
Diberitakan sebelumnya, emiten berkode GIAA ini akhirnya mengakui belum memperoleh sepeser pun pendapatan dari PT Mahata Aero Teknologi sebesar USD239,94 juta.
 
Pendapatan ini adalah asal muasal kisruh laporan keuangan Garuda Indonesia. Saat itu, manajemen membuat pengakuan pendapatan atas piutang kerja sama dengan Mahata dalam laporan keuangan tahun buku 2018 sehingga perseroan membukukan laba setelah bertahun-tahun merugi.
 
Hal tersebut disampaikan dalam keterbukaan informasi BEI. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia Fuad Rizal mengatakan seharusnya perseroan menerima pembayaran atas nilai Perjanjian Kerja Sama (PKS) setelah tanda tangan kontrak kerja sama. PKS antara Garuda Indonesia dengan Mahata diteken pada Oktober 2018 lalu dan diperbaharui Desember 2018. Periode kerja sama ini berlaku sampai 15 tahun mendatang.
 
"Perseroan belum menerima pembayaran," kata Fuad seperti diketahui dalam keterbukaan informasi BEI, Jakarta, Selasa, 7 Mei lalu.
 
Fuad menjelaskan pertimbangan perseroan tidak menagih pembayaran ketika PKS ditandatangani karena seluruh kewajiban telah diterbitkan invoice kepada Mahata.
 
Perusahaan, melalui Citilink, telah melakukan korespondensi dan pembahasan dengan Mahata supaya segera menyelesaikan kewajibannya. Adapun mengenai keterlambatan pembayaran telah disepakati di amandemen kontrak.
 
Dalam keterbukaan informasi itu, perusahaan juga menjelaskan mengenai pertimbangan melakukan kerja sama dengan Mahata. Padahal umur Mahata saat kontrak diteken baru 11 bulan, di mana belum memiliki rekam jejak yang bagus dalam bisnis penerbangan.
 
Namun menurut Fuad, Mahata cukup memiliki rekam jejak yang bagus dan reputasi bagus di dalam dan di luar negeri. Mahata merupakan perusahaan startup yang didukung oleh parent company Global Mahata Group yang memiliki 10 ribu karyawan dengan banyak cakupan bisnis, di antaranya pertambangan timah, inflight connectivity, dan tenaga keamanan. Nilai bisnis Global Mahata Group secara total adalah USD640 juta.
 
"Dari penawaran kerja sama yang telah masuk, semua menawarkan layanan yang mengharuskan airline mengeluarkan biaya investasi. Hanya Mahata yang menawarkan konsep yang berbeda dengan zero investment dan revenue sharing," jelas Fuad.
 
Sebelum bekerja sama dengan Garuda Indonesia, Mahata juga telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan internasional, seperti Lufthansa system, Lufthansa Tecnic, dan Inmarsat.
 
Terdapat keganjalan terhadap laporan keuangan Garuda Indonesia. Maskapai pelat merah tersebut tiba-tiba membukukan laba bersih USD809,85 ribu. Perolehan laba bersih tersebut diperoleh berkat piutang dengan Mahata yang diakui sebagai pendapatan perseroan. Dalam laporan keuangan, manajemen memasukan total pendapatan usaha lainnya mencapai USD306,88 juta.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif