Ilustrasi (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Rupiah Diperkirakan Menguat Didorong Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Acuan

Ekonomi kurs rupiah
Angga Bratadharma • 30 Mei 2018 08:30
Jakarta: Gerak dolar Amerika Serikat (USD) diperkirakan semakin kuat di sekitar level 94,80-95,0 terhadap beberapa mata uang utama dunia terutama euro. Kondisi itu terjadi seiring makin tingginya ketidakpastian politik di Italia didorong gagalnya pembentukan pemerintah baru oleh Presiden Italia Sergio Mattarella.

"Investor khawatir Italia dapat keluar dari mata uang tunggal euro dan menciptakan krisis baru di Eropa," ungkap Analis Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta, Rabu, 30 Mei 2018.

Ahmad Mikail menambahkan investor menjadikan mata uang USD dan yen sebagai save heaven di tengah ketidakpastian yang tinggi terhadap euro. Arus modal masuk yang terjadi di Amerika Serikat (AS) mendorong turun tajamnya imbal hasil treasury AS sebesar 14 bps ke level 2,79 persen sejak Senin lalu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Rupiah diperkirakan menguat terhadap USD seiring melemahnya imbal hasil treasury AS tersebut dan kemungkinan dinaikannya tingkat suku bunga acuan dalam negeri lebih cepat di akhir Mei. Rupiah kemungkinan menguat kembali ke level Rp13.950 sampai dengan Rp14.050 per USD," tuturnya. Imbal hasil treasury AS jangka menengah (10 tahun) dan panjang di AS (30 tahun) pada Selasa kemarin turun masing-masing sebesar 14 dan 12 bps level 2,79 persen dan 2,97 persen. Arus modal masuk yang besar akibat krisis politik di Italia mendorong penurunan tajam imbal hasil treasury AS.

"Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan kembali turun seiring melemahnya tekanan dari imbal hasil treasury AS serta kemungkinan menguatnya rupiah hari ini. Imbal hasil SUN 10 tahun diperkirakan bergerak di rentang 6,90-7,10 persen," pungkasnya.

 


(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi