Ilustrasi (MI/ROMMY PUJIANTO)
Ilustrasi (MI/ROMMY PUJIANTO)

Rupiah Pagi Terhempas ke Rp14.271/USD

Ekonomi kurs rupiah
Angga Bratadharma • 15 Agustus 2019 09:00
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Kamis pagi terlihat melemah dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp14.245 per USD. Ketakutan terjadinya resesi global memicu mata uang Garuda tidak mampu meredam keperkasaan mata uang Paman Sam di pagi ini.
 
Mengutip Bloomberg, Kamis, 15 Agustus 2019, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka melemah ke Rp14.271 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.271 hingga Rp14.303 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.100 per USD.
 
Sementara itu, kurs dolar Amerika Serikat menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Penguatan mata uang Paman Sam terjadi karena investor khawatir tentang perlambatan ekonomi di Eropa.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,20 persen menjadi 98,0067 pada perdagangan akhir Pada perdagangan akhir di New York, euro jatuh menjadi USD1,1135 dari USD1,1173 di sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2058 dari USD1,2053 di sesi sebelumnya.
 
Dolar Australia turun menjadi USD0,6745 dibandingkan dengan USD0,6793. Dolar AS dibeli 105,89 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 106,62 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9735 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9760 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3322 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3221 dolar Kanada.
 
Jerman, mesin ekonomi di Uni Eropa, baru saja mengumumkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu mengalami kontraksi 0,1 persen pada kuartal kedua 2019. Banyak analis mengaitkan penurunan pertumbuhan di Jerman dengan ketegangan perdagangan antara ekonomi-ekonomi utama dunia, karena ekonomi Jerman sangat bergantung kepada ekspor.
 
Data menunjukkan ekonomi zona euro melambat ke tingkat pertumbuhan 0,2 persen pada kuartal kedua, menurut Eurostat. Mata uang safe haven diuntungkan oleh ketakutan investor akan resesi global yang membayangi, dan melarikan diri ke aset-aset yang dianggap aman.
 
Inversi kurva imbal hasil -ketika perbedaan antara imbal hasil surat utang pemerintah bertenor dua tahun dan 10 tahun turun di bawah nol- indikator resesi yang akan datang. Pendinginan kurva terbalik yang dikirim melalui pasar global diperparah oleh data lemah dari Tiongkok dan Jerman serta memudarnya optimisme terkait perundingan perdagangan AS-Tiongkok.
 
"Ada banyak malapetaka dan kesuraman menyebar ke seluruh dunia," kata John Doyle, wakil presiden untuk transaksi dan perdagangan di Tempus Inc di Washington seperti dikutip oleh Reuters.
 
Kurva imbal hasil AS adalah indikator resesi utama. Jerman, Italia, dan Inggris kemungkinan menuju resesi. Data Tiongkok hari ini sangat buruk.
 
Di sisi lain, indeks Dow anjlok 800,49 poin atau 3,05 persen menjadi 25.479,42 poin, menandai penurunan harian terbesar tahun ini. Indeks S&P 500 jatuh 85,72 poin atau 2,93 persen ke 2.840,60. Indeks Komposit Nasdaq turun tajam 3,02 persen atau 242,42 poin menjadi 7.773,94 poin.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif