Rupiah Dibuka Keok di Rp15.196/USD
Ilustrasi (MI/ROMMY PUJIANTO)
Jakarta: Gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Selasa pagi terlihat terpental ke zona merah dibandingkan dengan perdagagan sore di hari sebelumnya di posisi Rp15.187 per USD. Namun, rupiah memiliki peluang berbalik arah ke zona positif seiring prediksi suku bunga acuan akan dipertahankan oleh Bank Indonesia.

Mengutip Bloomberg, Selasa, 23 Oktober 2018, nilai tukar rupiah perdagangan pagi dibuka melemah ke Rp15.196 per USD. Sedangkan day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp15.196 hingga Rp15.205 per USD dengan year to date return di 12,17 persen. Sementara itu, menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di Rp14.987 per USD.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average turun 126,93 poin atau 0,5 persen menjadi berakhir di 25.317,41 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 11,9 poin atau 0,43 persen menjadi ditutup di 2.755,88 poin. Sementara Indeks Komposit Nasdaq menambahkan 19,60 poin atau 0,26 persen menjadi berakhir di 7.468,63 poin.

Kenaikan di sektor teknologi membatasi kerugian pada S&P 500 dan membantu mengangkat indeks Nasdaq. Indeks teknologi S&P yang terpukul berhasil naik 0,8 persen. Indeks energi S&P 500 merosot 1,1 persen setelah Halliburton memperingatkan bahwa laba kuartal keempatnya akan meleset dari perkiraan.



Saham Halliburton jatuh 3,0 persen dan perusahaan penyedia jasa-jasa ladang minyak saingannya Schlumberger turun 2,9 persen. "Ini pekan laba. Itu menyebabkan beberapa keraguan bercampur takut bagi para investor. Kami telah melihat hasil yang pantas tetapi tidak secara universal," kata Kepala Ahli Strategi Investasi Inverness Counsel Tim Ghriskey.

Sementara laba perusahaan-perusahaan S&P 500 diperkirakan naik 21,9 persen pada kuartal ketiga, menurut data I/B/E/S dari Refinitiv, banyak investor yang sedang fokus pada prospek untuk pertumbuhan di masa depan karena kekhawatiran atas perang perdagangan, kenaikan biaya, dan faktor-faktor lain.

Saham Amazon.com dan Alphabet, keduanya melaporkan laba minggu ini, naik pada perdagangan Senin 22 Oktober. Saham-saham keuangan  turun 2,1 persen dan menjadi hambatan terbesar pada S&P 500. Kurva imbal hasil obligasi Pemerintah AS menurun ke angka terendah dalam lebih dari dua minggu.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id