Awal Pekan, Rupiah Perdagangan Pagi Menghijau di Rp14.095/USD

Angga Bratadharma 28 Mei 2018 08:47 WIB
kurs rupiah
Awal Pekan, Rupiah Perdagangan Pagi Menghijau di Rp14.095/USD
Ilustrasi (MI/SUSANTO)
Jakarta: Gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Senin pagi atau di awal pekan terpantau melesat di zona hijau dibandingkan dengan penutupan perdagangan sore di pekan sebelumnya di Rp14.133 per USD. Sejumlah sentimen positif diharapkan terus berdatangan dan memberi kekuatan untuk rupiah bisa terus menguat.

Mengutip Bloomberg, Senin, 28 Mei 2018, nilai tukar rupiah perdagangan pagi dibuka melonjak ke Rp14.095 per USD. Sedangkan day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.088 sampai dengan Rp14.095 per USD dengan year to date return di 4,21 persen. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.853 per USD.

Sementara itu, USD diperkirakan bergerak semakin kuat di sekitar level 94,25-94,75 terhadap beberapa mata uang utama dunia terutama euro. Kondisi itu juga terjadi seiring ketidakpastian politik di Eropa terutama di Italia setelah terpilihnya partai populis five star movement dan partai liga.



Selain itu, Analis Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail mengatakan, berita mengenai akan dinaikannya produksi minyak oleh Rusia dan Arab Saudi diyakini semakin memperkuat USD dan melemahkan harga minyak. Kemudian, tekanan naiknya imbal hasil treasury AS semakin mereda seiring dovish-nya pandangan the Fed usai keluarnya notulensi rapat FOMC di Mei.

"Rupiah diperkirakan menguat terhadap USD seiring melemahnya imbal hasil treasury AS tersebut dan kemungkinan dinaikannya tingkat suku bunga dalam negeri lebih cepat di akhir Mei. Rupiah kemungkinan menguat kembali ke level  Rp14.000 sampai dengan Rp14.100 per USD," kata Ahmad Mikail, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta.

Sedangkan imbal hasil treasury AS jangka menengah (10 tahun) dan panjang di AS (30 tahun) pada Sabtu kemarin turun masing-masing sebanyak tujuh dan llima bps level 2,93 persen dan 3,09 persen. Analis melihat tekanan terhadap inflasi di AS akan cukup rendah di April seiring kemungkinan turunnya harga minyak dan lemahnya pertumbuhan upah di AS.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id