Kuartal I-2018

Hantaman Industri Ritel Masih Gerus Penjualan Hero

Dian Ihsan Siregar 01 Mei 2018 17:11 WIB
hero supermarket
Hantaman Industri Ritel Masih Gerus Penjualan Hero
Ilustrasi Hero Supermarket. (Foto: MI/Himanda).
Jakarta: Penjualan PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mengalami penurunan dua persen menjadi Rp3,04 triliun per Maret 2018 dari periode yang sama tahun sebelumnya mencapai Rp3,1 triliun. Penurunan ini akibat hantaman sektor ritel yang masih terlihat di sepanjang kuartal I-2018.

"Sektor ritel modern Indonesia mengalami penurunan perdagangan pada kuartal pertama 2018 yang disebabkan oleh perubahan perilaku konsumen kearah penghematan sehingga mengakibatkan konsumsi rumah tangga sehari-hari menurun. Hal ini menyebabkan penjualan di bisnis makanan tetap menantang," kata Presiden Direktur Hero Supermarket Stephane Deutsch, dalam keterangan persnya, Selasa, 1 Mei 2018.

Walaupun penjualan menurun, tapi rugi bersih perseroan terangkay. Rugi bersih perseroan mengalami penurunan dari Rp6 miliar di kuartal I-2017 menjadi Rp4 miliar di tiga bulan pertama tahun ini. "Penurunan rugi bersih ini ditopang oleh peningkatan marjin," jelas dia.

Penjualan yang mengalami penurunan, dia mengaku, hal itu tercermin dari penjualan bisnis makanan yang turun tujuh persen menjadi Rp2,45 triliun. Penjualan makan yang turun disebabkan oleh penutupan toko dan penjualan like-for-like yang negatif, sehingga menghasilkan kerugian operasional sebesar Rp87 miliar.

"Itu di luar biaya-biaya perseroan yang tidak dialokasikan, dibandingkan dengan Rp56 miliar pada periode yang sama tahun lalu," katanya.

Sementara itu dari sisi penjualan di bisnis non-makanan meningkat 22 persen menjadi Rp589 miliar, di mana Guardian dan IKEA menunjukkan pertumbuhan yang kuat dengan laba operasional sebesar Rp87 miliar diluar biaya-biaya perseroan yang tidak dialokasikan, dibandingkan dengan Rp63 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Sebagai respons terhadap kondisi pasar yang menurun, dia menyatakan, berbagai langkah sedang dijalankan perseroan untuk meraih kembali pertumbuhan penjualan, yakni dengan cara pembaharuan strategi promosi yang berfokus pada harga murah bagi pelanggan serta meningkatkan ketersediaan produk di toko.

"Kondisi perdagangan tetap menantang pada kuartal pertama 2018, akan tetapi marjin kotor berhasil ditingkatkan ditambah dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bisnis Kesehatan dan Kecantikan dan IKEA terus membukukan hasil yang baik, dengan penjualan dan pertumbuhan laba yang kuat," jelas dia.

Adapun arus kas bebas untuk kuartal ini meningkat menjadi negatif sebesar Rp30 miliar, dibandingkan dengan negatif Rp103 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, terutama karena berkurangnya belanja modal. Pada 31 Maret 2018, Perseroan memiliki kas bersih sebesar Rp197 miliar, dibandingkan dengan Rp226 miliar pada akhir tahun sebelumnya.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id