Enam Faktor Penyebab Rupiah Tembus ke Rp14 Ribu/USD

Desi Angriani 07 Mei 2018 18:51 WIB
rupiah melemahkurs rupiah
Enam Faktor Penyebab Rupiah Tembus ke Rp14 Ribu/USD
Ilustrasi. (Foto: Antara/Prasetyo).
Jakarta: Depresi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dipercaya terus berlanjut hingga akhir Mei 2018. Pada penutupan perdagangan sore ini, mata uang Garuda akhirnya menembus Rp14.001 per USD.

Peneliti Institute Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengungkapkan enam faktor yang menyebabkan rupiah terus ambruk hingga mencapai titik terlemahnya sejak akhir 2015.

Pertama, investor melakukan spekulasi terkait prediksi kenaikan Fed rate pada rapat FOMC Juni. Hal ini membuat sentimen investasi di negara berkembang khususnya Indonesia menurun. Tercatat capital outflow di pasar modal mencapai Rp11,3 triliun dalam satu bulan terakhir.

"Investor melakukan spekulasi setelah pengumuman data pengangguran AS sebesar 3,9 persen terendah bahkan sebelum krisis 2008," tutur Bhima saat dihubungi Medcom.id di Jakarta, Senin, 7 Mei 2018.

Faktor kedua, investor bereaksi negatif terhadap rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2018 yang hanya mencapai 5,06 persen akibat masih melemahnya konsumsi rumah tangga. Sentimen tersebut membuat pasar cenderung pesimis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi 2018 yang ditarget tumbuh 5,4 persen.

Indikator berikutnya berasal dari harga minyak mentah terus meningkat hingga USD74-USD75 per barel akibat perang di Suriah serta ketidakpastian Perang Dagang AS-Tiongkok.

"Hal ini membuat inflasi jelang Ramadan semakin meningkat karena harga BBM nonsubsidi (pertalite, pertamax) menyesuaikan mekanisme pasar. Inflasi dari pangan juga perlu diwaspadai karena harga bawang merah naik cukup tinggi dalam satu bulan terakhir," ungkap Bhima.

Faktor keempat ialah permintaan dolar AS diperkirakan naik pada triwulan II-2018 karena emiten secara musiman membagikan dividen. Investor di pasar saham sebagian besar adalah investor asing sehingga mengkonversi hasil dividen rupiah ke dalam mata uang dolar.

Selanjutnya, importir lebih banyak memegang dolar untuk kebutuhan impor bahan baku dan barang konsumsi jelang Lebaran. Perusahaan juga dinilai meningkatkan pembelian dolar untuk pelunasan utang luar negeri jangka pendek.

"Ada efek antisipasi penambahan cuti Lebaran terhadap prilaku pengusaha yang borong dolar di pasar. Meskipun dampaknya kemungkinan kecil ke fluktuasi kurs," sambungnya.

Terakhir, berasal dari defisit transaksi berjalan tahun ini yang diperkirakan semakin melebar hingga 2,1 persen terhadap PDB. Selain karena keluarnya modal asing juga karena defisit neraca perdagangan yang diperkirakan akan kembali terjadi jelang Lebaran karena impor barang konsumsi yang naik.

Mengutip data Bloomberg, Senin, 7 Mei 2018, rupiah ditutup melemah ke level Rp14.001 per USD dibandingkan pembukaan perdagangan yang berada di Rp13.949 per USD.

Rupiah terpantau melemah hingga 56 poin atau setara 0,40 persen. Adapun rentang gerak rupiah pada perdagangan pagi ini berada di level Rp13.949-Rp14.003 per USD. Sementara itu year to date return (ytd) tercatat sebesar 3,10 persen.

Sedangkan berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah diperdagangkan melemah ke level Rp13.994 per USD, yang mencapai 59 poin atau setara 0,42 persen. Sementara berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan ke level Rp13.956 per USD.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id