NEWSTICKER
BEI (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).
BEI (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa).

BI Antisipasi Bubble Akibat Peralihan Instrumen Investasi

Ekonomi saham
31 Oktober 2016 18:21
medcom.id, Teluk Benoa: Bank Indonesia (BI) terus mengantisipasi potensi bubble atau kenaikan drastis pembelian instrumen keuangan di pasar modal, menyusul banyaknya peralihan dana dari instrumen berbasis bunga karena kebijakan suku bunga negatif di negara-negara maju.
 
Baca :BEI Jamin Dana Pengampunan Pajak Tidak Picu Bubble di Pasar Modal
 
"Dalam pertemuan di rapat dewan gubernur, kita selalu antisipasi kemungkinan bubble terutama di pasar modal," kata Deputi Gubernur BI Hendar, di Teluk Benoa, Bali, Sebagaimana dikutip dari Antara, Senin (31/10/2016).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hendar mengatakan peningkatan nilai instrumen keuangan di pasar modal hingga saat ini, masih sesuai dengan takaran fundamental Bank Indonesia.
 
"Kita dalami, sejauh ini penguatan ini masih sejalan," ujar dia.
 
Beberapa kalangan ekonom dan bankir sebelumnya mengkhawatirkan krisis ekonomi global berikutnya bisa terjadi karena gelombang kebijakan suku bunga negatif dari berbagai bank sentral dunia yang memicu gelembung (bubble) peningkatan nilai instrumen keuangan di pasar modal.
 
Lazimnya, ketika suku bunga nol persen atau negatif, dana dari bank akan dipindahkan ke instrumen keuangan di pasar modal karena bunga instrumen yang ditawarkan bank tidak menarik.
 
Oleh karena itu pembelian instrumen keuangan non-bank akan terjadi secara masif (bubble) dan dikhawatirkan berdasarkan spekulasi.
 
"Semakin turun bunga acuan bank sentral maka akan semakin meningkatkan nilai instrumen finansial," kata Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BRI) Haru Koesmahargyo beberapa waktu lalu.
 
Hal itu, kata Haru, akan memicu potensi gejolak atau instabilitas ketika kebijakan suku bunga negatif tersebut akan menemui titik balik dan memicu jatuhnya harga instrumen keuangan.
 
"Makin rendah suku bunga, maka semakin tinggi value instrumen. Namun, tidak ada sumur yang tidak memiliki dasar. Ketika ada titik balik, harga instrumen finansial yang bubble akan jatuh," kata dia.
 
Sebelumnya, kata dia, terdapat dua fenomena bubble yang menyebabkan badai atau krisis ekonomi global, yakni pada 1999 dan 2008.
 
"Pada 1999 berasal dari emiten-emiten dot-com di pasar modal Amerika Serikat, namum dampaknya tidak terlalu terasa di Indonesia. Kemudian tahun 2008 krisis keuangan, berasal dari bubble properti," kata dia.
 
Haru menekankan penempatan dana lebih baik diprioritaskan untuk sektor riil dan sektor yang tidak berpotensi terjadi bubble.
 
"Pertumbuhan ekonomi harus didorong dengan mengeser dana-dana di instrumen keuangan di atas ke sektor riil. Sebab dia menilai, pembiayaan ke sektor riil cenderung terhindar dari gelembung ekonomi," ujarnya.

 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif