Peneliti menunjukkan kalung antivirus hasil pengolahan laboratorium nano teknologi Balitbangtan Kementan. Foto: ANTARA/Arif Firmansyah
Peneliti menunjukkan kalung antivirus hasil pengolahan laboratorium nano teknologi Balitbangtan Kementan. Foto: ANTARA/Arif Firmansyah

Kalung Antivirus di Toko Daring Turun Harga Jadi Rp30 Ribu

Ekonomi Kalung Eucalyptus
Ilham wibowo • 10 Juli 2020 10:49
Jakarta: Produk kalung antivirus asal Jepang, Toamit Virus Shut Out, masih banyak dijual di sejumlah online shop atau toko daring pelapak Indonesia. Namun berdasarkan pantauan, produk yang sempat populer digunakan saat pandemi covid-19 ini telah mengalami penurunan harga.
 
Berdasarkan penelusuran Medcom.id, Jumat, 10 Juli 2020, produk tersebut mudah ditemukan di marketplace seperti Lazada Indonesia, Blibli, Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak dengan kata kunci kalung antivirus. Harga jualnya pun beragam mulai Rp30 ribu hingga Rp273 ribu per buah, meski secara perlahan harganya berangsur-angsur turun.
 
Akun littlebos.store di platform Shopee, misalnya, telah menurunkan harga jual kalung Toamit Virus Shut Out sebanyak 80 persen menjadi Rp40 ribu dari harga semula Rp250 ribu. Total produk terjual dari akun yang mencantumkan alamat di Kepulauan Anambas, Kepri, itu tercatat sebanyak 1.500 buah dan stok tersedia 289 buah dengan ongkos kirim Rp23 ribu-Rp43 ribu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Akun yang mengklaim 100 persen produknya asli Jepang ini menampilkan video tata cara penggunaan kalung. Promosi produk yang punya warna dominan biru ini juga menampilkan foto sejumlah publik figur dan pejabat saat mengenakan kalung Toamit Virus Shut Out.
 
Meski tak spesifik menyebut anti-covid-19, penjual tetap menampilkan tulisan antivirus dan antibakteri dalam penjelasan produknya. Produk tersebut dijelaskan akan melepaskan konsentrasi rendah klorin dioksida udara untuk mencegah kuman dan virus di udara sekitarnya dengan jarak 0,5-1 meter.
 
Baca: Produk Eucalyptus Kementan Siap Beredar Juli
 
"Cara pakainya juga gampang banget, cuma dikalungkan di leher dan akan melindungi Anda dari virus-virus yang mungkin menempel di baju orang di sekitar Anda," tulis akun littlebos.store pada kolom deskripsi produk dikutip Jumat, 10 Juli 2020.
 
Dalam akunnya, littlebos.store juga menyebut Toamit Virus Shut Out merupakan pilihan tepat untuk masyarakat yang berinteraksi dengan banyak orang di luar rumah. Kuman dan virus kemungkinan banyak tersebar di transportasi umum dan ruang publik lainnya.
 
"Virus Shut Out dibuat asli dari Jepang, sehingga Anda dapat merasa yakin dengan keamanan dan kualitasnya," tulisnya.
 
Pemanfaatan peluang bisnis kalung antivirus juga dilakukan oleh toko akun trij_acc.hp. Penjual grosir dan eceran ini masuk daftar toko terlaris di Shopee lantaran berhasil menjual 6.500 buah produk Virus Shut Out seharga Rp30 ribu satuannya.
 
Kehadiran kalung antivirus asal Jepang itu belakangan diteliti oleh para praktisi medis di Indonesia. Beragam reaksi muncul lantaran produk tersebut diragukan untuk menghindari paparan virus korona (covid-19).
 
Perdebatan juga makin ramai usai Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengenakan kalung bertuliskan antivirus korona saat menjalankan rapat kerja. Produk inovasi antivirus berbasis eucalyptus itu pun memenuhi percakapan jagat media sosial, tiga bulan setelah peluncuran resminya pada 8 Mei 2020.
 
Serupa kalung tapi tak sama fungsi dan efeknya bagi kesehatan. Aromaterapi eucalyptus hasil inovasi peneliti Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) punya keunggulan bahan aktif yang telah terbukti memiliki kemampuan menghambat replikasi virus influenza. Bahan tersebut juga masuk dalam kandidat anti-covid-19.
 
Baca: Kalung Eucalyptus Kementan Beda dengan Shut Out dari Jepang
 
Peneliti Utama Virologi Molekuker Balitbangtan Indi Dharmayanti memaparkan bahwa cara kerja pada kalung aromaterapi eucalyptus yakni ada pada 1,8-cineole yang akan merusak struktur main protein (MPro) dari virus. Sehingga, virus akan sulit bereplikasi dan akhirnya terus berkurang jumlahnya.
 
"Mekanisme ini berbeda dengan shut out yang dari Jepang yang kandungannya adalah calcium chlorida (CaCl2) sejenis garam yang dapat memengaruhi kejenuhan udara di sekitarnya," kata Indi dalam konferensi pers yang disiarkan secara virtual, Senin, 6 Juli 2020.
 
Menurut Indi, bentuk kalung pada aromaterapi eucalyptus dipilih agar mudah dibawa ke mana saja tanpa khawatir tertinggal atau tercecer. Produk ini dalam dunia luas bisa saja didesain sebagai gantungan kunci, kipas, bolpen atau bentuk lainnya yang mengantarkan aromaterapi.
 
Selain itu, bentuk kantung berpori juga difungsikan agar luas bidang kontak menjadi besar dan menekan jumlah penggunaan bahan baku. Ukuran partikel bahan aktif eucalyptus juga telah diubah menjadi sangat kecil karena teknologi nano.
 
Adapun produk ini mengeluarkan aroma secara lepas lambat atau slow release sehingga berfungsi sebagai aromaterapi selama jangka waktu tertentu. Untuk mendapatkan efek aromaterapi yang optimal, caranya dengan menghirup aroma dari lubang-lubang kemasan selama 5-15 menit.
 
"Produk shut out tidak dihirup seperti kalung eucalyptus. Sehingga kalau kita lebih banyak beraktivitas di luar maka tidak akan efektif. Sementara itu, untuk kalung eucalyptus selama cara pakainya sesuai aturan, diharapkan virus dapat di-inaktivasi," paparnya.
 
Namun demikian, kalung aromaterapi eucalyptus Kementan yang sudah memiliki izin edar dari Badan POM sebagai produk jamu ini keberadaannya belum tersedia di pasaran. Pasalnya, proses produksi massal oleh mitra industri tengah dilakukan dan rencananya selesai pada Agustus 2020 dengan harga terjangkau.
 

(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif