Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Foto : Medcom.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Foto : Medcom.

Hadapi Ancaman Resesi

BI Belum Berencana Turunkan Suku Bunga

Ekonomi bank indonesia suku bunga
Husen Miftahudin • 07 April 2020 20:45
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyatakan sedang fokus dalam menstabilisasi nilai tukar rupiah saat ini. Meski punya ruang menurunkan suku bunga acuan, namun bank sentral belum berencana untuk melakukannya.
 
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan terbukanya ruang penurunan suku bunga acuan berasal dari inflasi yang rendah pada Maret 2020 sebesar 0,10 persen secara month to month (mtm) dan 2,96 persen secara year on year (yoy). Namun saat ini bank sentral tengah memprioritaskan stabilitas mata uang Garuda.
 
"Kalau dari sisi kebijakan suku bunga memang masih ada ruang untuk penurunan suku bunga. Tapi masalahnya, apakah kita ingin menggunakannya? BI sangat hati-hati karena pertimbangan stabilitas nilai tukar rupiah," ujar Perry dalam telekonferensi di Jakarta, Selasa, 7 April 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Perry, fokusnya bank sentral kepada stabilitas nilai tukar rupiah lantaran kondisi pasar keuangan global yang masih mengandung ketidakpastian tinggi. Di sisi lain Bank Indonesia juga perlu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tekanan merebaknya virus korona (covid-19).
 
"Dan karena itu prioritas sekarang adalah eksternal ini, prioritas sekarang adalah stabilitas nilai tukar rupiah meskipun kami punya ruang untuk penurunan suku bunga. Intinya pada saat ini kami adalah untuk kestabilitasan nilai tukar rupiah," tegasnya.
 
Selain itu Perry juga menegaskan tidak akan melakukan akomodasi kebijakan moneternya. Pasalnya, Bank Indonesia sudah melakukan quantitative easing sebanyak hampir Rp300 triliun sebagai langkah mitigasi dampak covid-19.
 
Namun Perry khawatir langkah likuiditas yang cukup di pasar uang dan perbankan ini tidak bisa langsung diserap sektor riil. Dalam hal ini pemerintah memberi solusi dengan menelurkan stimulus fiskalnya agar mampu mendorong ekonomi riil.
 
"Meningkatkan pendapatan masyarakat dari jaring pengaman sosial, baik bantuan sosial dalam bentuk PKH (Program Keluarga Harapan), kartu pra-kerja, hingga Kartu Indonesia Pintar. Itu akan mendorong konsumsi pemerintah," ungkap dia.
 
Pemerintah juga menggelontorkan anggaran untuk pemulihan ekonomi sebagai upaya meredam dampak covid-19 di Tanah Air. Dengan demikian, stimulus-stimulus fiskal ini membantu likuiditas bank sentral mengalir dari perbankan ke sektor riil.
 
Di samping itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah merelaksasi aturan-aturan terkait kredit, termasuk kalisifikasi dan rencana untuk restrukturisasi kredit. Sehingga bank yang memiliki kecukupan likuiditas mampu mendorong perekonomian nasional.
 
"Inilah koordinasi yang erat dari tiga institusi ini yang kemudian secara bersama untuk bagaimana kita mengatasi dampak covid-19 dari sisi pemulihan ekonomi, baik untuk kesejahteraan masyarakat dalam bentuk jaring pengaman sosial, maupun untuk dunia usaha baik UMKM dan korporat," pungkas Perry.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif