Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Produksi Migas RI Bakal Tembus Rekor Baru di 2030

Ekonomi migas skk migas
Suci Sedya Utami • 25 November 2020 07:33
Jakarta: Indonesia memiliki target untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi (migas) sebesar 3,2 juta barel ekuivalen setara minyak per hari (boepd) di 2030. Target tersebut terdiri dari produksi minyak sebesar satu juta barel per hari (bph) dan gas sebesar 12 miliar kaki kubik per hari (bscfd).
 
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan apabila target tersebut tercapai maka akan menembus rekor baru. Ia bilang dalam sejarah pemigasan produksi puncak terjadi pada 1998 sebesar 2,9 juta boepd.
 
"Ini adalah capaian puncak baru dan akan menembus capaian puncak yang lama, dan itu harus dikejar dalam waktu yang cukup pendek," kata Dwi, dalam Economic Challenges Metro TV, seperti dikutip Rabu, 25 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dwi mengatakan target tersebut dibuat berdasarkan keputusan bersama antara pemerintah dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Semua KKKS, kata Dwi, memberikan persetujuan mengenai target tersebut.
 
Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) ini mengatakan penetapan target mempertimbangkan potensi Indonesia yang cukup besar dengan adanya 128 cekungan migas. Dari jumlah tersebut 37 telah dieksplorasi dan 20 di antaranya telah berproduksi. Masih ada 68 cekungan yang belum dijamah.
 
"Ini kan sesungguhnya gambaran potensinya cukup besar, kita sudah 20 tahun lebih decline terus menerus. Oke kita mau mulai coba buka-buka potensi apa yang bisa diangkat," ujar Dwi.
 
Dwi menyadari untuk mencapai target itu dibutuhkan peningkatan kegiatan pengeboran. Karenanya tahun depan ditargetkan terdapat 600 sumur yang akan dibor dengan jumlah investasi yang fantastis. Untuk satu juta barel dibutuhkan investasi USD250 miliar. Menurut Dwi target satu juta barel selain meningkatkan lifting juga membuat investasi masuk ke Indonesia.
 
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Medco Energi Hilmi Panigoro mengatakan untuk menarik investasi yang terpenting yakni pemerintah mengimplementasikan fleksibilitas fiskal dan kontrak yang proper agar investor merasa adanya kepastian mengenai return yang memadai.
 
"Investor sederhana kok, kalau return-nya jelas, kontraknya pasti dia akan berlomba-lomba investasi," ujar Hilmi.
 
Hilmi yakin jika target tersebut akan tercapai. Ia bilang apabila berkaca dari pengalaman Oman yang pada 2008 memiliki produksi yang sama dengan Indonesia saat ini di level 700 ribu bph, di 2015 negara asal Timur Tengah itu bisa menebus angka satu juta barel.
 
"Dari 700 ke satu juta itu, 200 ribunya dari EOR, 100 ribu produksi baru dari eksplorasi," pungkas Hilmi.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif