Ilustrasi kebutuhan gas - - Foto: Antara/ Akbar
Ilustrasi kebutuhan gas - - Foto: Antara/ Akbar

Indonesia akan Defisit Gas di 2023

Ekonomi migas gas kementerian esdm
Suci Sedya Utami • 19 Mei 2020 11:27
Jakarta: Indonesia diperkirakan akan mengalami puncak defisit gas pada 2023. Perkiraan tersebut tertulis dalam rancangan neraca gas terbaru untuk 2020-2030.
 
Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Soerjaningsih menjelaskan pasokan gas akan mengalami penurunan secara perlahan dalam tiga tahun ke depan. Pasokan gas existing ini tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan di masa mendatang. Artinya mesti ada proyek baru yang menunjang pasokan tersebut.
 
"Secara nasional gambaran seperti ini kita akan alami penurunan drastis dari existing suplai. Kalau tidak ditunjang dengan proyek-proyek sekarang, untuk memenuhi dari existing kontrak saja mulai 2020-2023 kita tidak mampu," kata Soerjaningsih dalam diskusi virtual, Senin, 18 Mei 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menjelaskan kebutuhan atau permintaan gas memang akan semakin meningkat lantaran beberapa kebijakan pemerintah gencar mendorong penggunaan gas. Misalnya saja konversi pembangkit listrik tenaga diesel atau pun batu bara ke gas. Pemerintah, kata Soerjaningsih, sudah menyiapkan rencana pembangunan 52 mini regasifikasi untuk mendorong penggunaan pembangkit listrik tenaga gas.
 
Selain itu, penurunan harga gas industri menjadi USD6 per MMBTU bisa mendorongnya peningkatan konsumsi gas. Salah satu industri yang akan menyerap gas dalam jumlah besar nantinya adalah industri petrokimia dan metanol.
 
"Kemudian dari kilang-kilang sekarang sudah direncanakan oleh Pertamina maupun yang sedang berjalan. Untuk kilang grass root (GRR) maupun RDMP ada kenaikan (konsumsi gas) di situ," ujar dia.
 
Di sisi lain, peningkatan konsumsi gas juga dipicu oleh mulai tersambungnya infrastruktur dan jaringan gas sepanjang pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan, serta Papua dengan ditetapkannya Wilayah Jaringan Distribusi (WJD). Melalui WJD tersebut, akan ada roadmap pembangunan yang jelas termasuk di dalamnya pembangunan jaringan gas rumah tangga yang masif.
 
"Untuk akses ke masyarakat luas di 2021-2024 ada empat juta sambungan rumah tangga untuk jargas dan 2030 ada 10 juta sambungan jargas. di 2038 kita rencanakan sebanyak 30 juta sambungan gas rumah tangga," jelas Soerjaningsih.
 

(Des)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif