Ilustrasi pertumbuhan kredit perbankan. Foto : AFP.
Ilustrasi pertumbuhan kredit perbankan. Foto : AFP.

Pertumbuhan Kredit Perbankan Diprediksi Tumbuh 1% di 2020

Ekonomi perbankan Virus Korona
Angga Bratadharma • 18 Mei 2020 21:54
Jakarta: Chief Economist BNI Ryan Kiryanto memperkirakan pertumbuhan penyaluran kredit perbankan hanya sekitar 1 hingga 2 persen di sepanjang 2020. Adapun pandemi covid-19 telah memberikan pukulan cukup keras bagi perekonomian Indonesia, termasuk imbasnya terhadap industri jasa keuangan Tanah Air.
 
Berdasarkan data OJK, Ryan memaparkan total aset, kredit, dan DPK perbankan menunjukkan kenaikan jika ditelisik dari 2015 sampai 2019. Akan tetapi, kondisinya sedikit berbeda ketika memasuki Maret 2020. Dirinya memandang pergerakan kredit perbankan Tanah Air pada periode tersebut memperlihatkan adanya perlambatan.
 
"Pertumbuhan kredit perbankan kalau dilihat kurvanya sudah melandai. Ini bulan ke depan akan melengkung ke bawah. Artinya, kredit secara tahunan sampai akhir tahun tidak sampai tiga persen, tapi 1-2 persen secara full year," kata Ryan, dalam Ramadhan Digital Talkshow bertajuk 'Restrukturisasi Kredit/Pembiayaan di Masa Pandemi Covid-19', Senin, 18 Mei 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Masih menggunakan data OJK, ia menambahkan, Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet perbankan di Februari dan Maret terbilang terkendali. Pada Februari, NPL tercatat di angka 2,79 persen dan di Maret turun sebanyak dua basis poin atau berada di angka 2,77 persen. Namun sesudah Maret, Ryan berpandangan, akan ada perubahan.
 
"Itu angka lama (NPL di Februari dan Maret). Dengan angka baru (di Mei) akan ada kenaikan NPL gross (akibat covid-19). Dampak kenaikan NPL, CAR sudah muai tergerus. Januari CAR perbankan 22,84 persen dan sekarang di Maret 21,77 persen. Tidak ada jalan lain menggunakan modal sendiri. Tapi tidak apa-apa karena CAR masih di atas ketentuan 17 persen," tuturnya.
 
Ryan menekankan bahwa pandemi covid-19 telah memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia dan turunannya, termasuk industri jasa keuangan. Apalagi, masih kata Ryan, ada dua provinsi yang sebelum covid-19 tiba, tingkat NPL perbankannya tinggi yakni di provinsi Sulawesi Selatan dan provinsi Kepulauan Riau.
 
Bank yang beroperasi di dua wilayah itu, lanjut Ryan, harus fokus menyelesaikan persoalan NPL. Sedangkan sesudah covid-19 masuk ke Tanah Air dan merebak ke beberapa wilayah, Ryan melihat, ada enam provinsi masuk zona merah. Semua wilayah itu ada di provinsi Jawa, Riau, dan Sulawesi Selatan.
 
"Untuk bank yang beroperasi di enam wilayah ini bank harus ekstra. Tidak hanya bank tapi lembaga jasa keuangan lainnya karena PSBB di enam provinsi ini pasti membuat aktivitas ekonomi melambat. Karena ada pembatasan maka akan membuat aktivitas di enam wilayah ini memburuk," pungkasya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif