Dampak virus korona (covid-19) menyebar luas hingga ke industri kecil dan menengah (IKM) yang dialami sektor otomotif. Foto: Istimewa
Dampak virus korona (covid-19) menyebar luas hingga ke industri kecil dan menengah (IKM) yang dialami sektor otomotif. Foto: Istimewa

Kemenperin: IKM Otomotif Berjibaku Lawan Dampak Covid-19

Ekonomi industri otomotif kementerian perindustrian virus corona
Husen Miftahudin • 05 April 2020 12:43
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui dampak virus korona (covid-19) menyebar luas hingga ke sendi perekonomian domestik. Salah satunya industri kecil dan menengah (IKM) yang dialami sektor otomotif. Padahal kontribusi sektor ini cukup besar bagi pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional.
 
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih menyebutkan IKM komponen dan suku cadang otomotif pendukung masih tetap berproduksi, meskipun sebagian besar mengalami penurunan permintaan dari vendor, agen pemegang merek (APM), hingga pelanggan. Bila vendor dan APM berhenti produksi, potensi kerugian yang diderita IKM sektor ini bakal cukup besar.
 
"Sebagai contoh, apabila Honda dan Yamaha berhenti produksi, potensi kerugian sekitar Rp2 miliar untuk IKM anggota Asosiasi Pengusaha Engineering Karawang (APEK)," ujar Gati dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu, 5 April 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, ada pula IKM yang bersiap mengantisipasi dampak dari penyebaran covid-19, salah satunya PT Gading Toolsindo. Mereka memprediksi jika terjadi lockdown selama dua pekan, maka usahanya akan mengalami kerugian sekitar Rp570 juta. Sedangkan, jika lockdown terjadi selama satu bulan, kerugian yang dialami bisa mencapai Rp1,3 miliar dengan beban bunga kredit Rp480 juta.
 
Sementara itu, Gati juga membeberkan data terkait akses distribusi dan pengiriman di sepanjang jalur tol Jakarta-Cikampek dan Pantura) yang masih tetap dapat dilalui. Adapun beberapa kendala yang dihadapi IKM komponen dan suku cadang, di antaranya adalah harga bahan baku yang lebih mahal karena pengaruh kurs dolar.
 
Kemudian, langkanya ketersediaan masker dan penyanitasi tangan, serta mahalnya termometer infra merah dan peralatan semprot disinfektan, mengingat peralatan tersebut dibutuhkan untuk menjalankan protokol kesehatan saat melakukan kegiatan produksi untuk mencegah penyebaran covid-19.
 
Terkait imbauan pemerintah tentang bekerja dari rumah atau work form home (WFH), para karyawan nonproduksi sebagian belum dapat melaksanakannya lantaran keterbatasan fasilitas seperti tidak tersedianya komputer jinjing atau laptop di rumah. "Namun, telah dilakukan beberapa upaya dalam rangka mendukung physical distancing. Kemudian untuk penundaan pembayaran kredit/pinjaman dan subsidi gaji karyawan akan kami usulkan," tukas Gati.
 
Gati menambahkan, beberapa IKM komponen otomotif yang tergabung dalam Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) Indonesia telah memiliki jaringan pemasok dari luar negeri, seperti PT Eran Tekniktama yang memiliki jaringan pemasok mesin pembuat masker dari Tiongkok.
 
"IKM tersebut berharap dapat mengantongi izin impor mesin dari Tiongkok untuk proses produksi membuat masker, untuk kemudian hasilnya didonasikan untuk masyarakat," pungkas dia.
 

(DEV)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif