Industri makanan dan minuman. Foto : MI.
Industri makanan dan minuman. Foto : MI.

Kemenperin Dorong Industri Mamin Gunakan Kemasan Ramah Lingkungan

Ekonomi Sampah Ramah Lingkungan Kementerian Perindustrian minuman makanan
Husen Miftahudin • 29 November 2021 11:48
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pelaku industri makanan dan minuman (mamin) untuk mulai menggunakan kemasan yang ramah lingkungan. Pasalnya kemasan makanan dan minuman kerap menimbulkan masalah lantaran menjadi sampah yang sulit terurai dan cenderung tak ramah lingkungan.
 
Berdasarkan data University of California, Santa Barbara, produksi plastik dari sektor kemasan secara global mencapai 161 juta ton. Sementara merujuk pada catatan Indonesia Packaging Federation pada 2020, penggunaan material kemasan di Tanah Air mayoritas didominasi plastik, sebesar 44 persen, sisanya sebesar 28 persen menggunakan paperboard dan 14 persen menggunakan kemasan plastik rigid/kaku.
 
Banyaknya sampah plastik di Indonesia juga tercermin dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di mana produksi sampah plastik mencapai hingga 5,4 juta ton per tahun. Lagi-lagi, makanan dan minuman menempati urutan teratas untuk penggunaan kantong plastik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pelaku industri makanan dan minuman diimbau untuk meminimalisasi penggunaan plastik. Sampah kemasan (plastik) banyak sekali dan sulit hancur. Kami sangat aware dengan kemasan makanan dan minuman," ucap Analis Kebijakan Ahli Utama Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih dalam siaran persnya, Senin, 29 November 2021.
 
Gati mengungkapkan, fokus Kemenperin terhadap sampah plastik dan kemasan karena memerhatikan bahwa 38 persen Industri Kecil Menengah (IKM) bergerak di sektor pengolahan makanan. Dilihat dari evolusi kemasan, kemasan awalnya menggunakan bahan baku dari sumber daya alam. Kemudian berkembang ke plastik yang lebih fleksibel, namun ternyata menimbulkan masalah untuk lingkungan.
 
"Penerapan sampah plastik yang didaur ulang akan sulit untuk dijadikan kemasan produk makanan karena harus menerapkan aspek higienitas dan food grade. Oleh karena itu, untuk produk makanan kami mendorong kemasan yang ramah lingkungan," tegasnya.
 
Dia memaparkan terdapat gerakan green living yang mendorong kemasan suatu produk dapat digunakan kembali dengan cara di-recycle dan reuse. Salah satunya yang dilakukan produsen kertas makanan dan minuman, Foopak, yang mendukung penggunaan kemasan ramah lingkungan.
 
Product Manager Foopak, Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas Benny Chiadarma mengatakan bahwa pihaknya menempuh perjalanan panjang untuk menghasilkan kertas kemasan yang teruji ramah lingkungan, yaitu Foopak Bio Natura. Foopak membutuhkan dua tahun untuk riset bahan yang digunakan, tiga tahun untuk menyempurnakan teknik produksi.
 
"Kami bangga menjadi produsen pertama di Indonesia dan dunia yang mengembangkan teknik coating untuk kertas bahan baku packaging makanan dan minuman," kata dia.
 
Foopak Bio Natura juga menggunakan teknologi nano untuk menghasilkan kertas yang tahan air dan minyak. Selain Anomali Coffee, kertas Foopak Bio Natura pun telah dipakai perusahaan makanan dan minuman lainnya. Tak hanya di Indonesia, melainkan pula perusahaan makanan dan minuman negara lain, seperti gelas es krim untuk perusahaan di Amerika Serikat.
 
"Sudah banyak pemilik merek makanan dan minuman besar di dunia yang gunakan kemasan ramah lingkungan, karena kita tahu bahayanya kemasan yang tidak ramah lingkungan, seperti plastik," pungkas Benny. 
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif