Ilustrasi. Foto: AFP
Ilustrasi. Foto: AFP

Pasokan Batu Bara Kritis, Cadangan Listrik Menipis

Ekonomi listrik Kementerian ESDM
Suci Sedya Utami • 27 Januari 2021 17:12
Jakarta: Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan pasokan batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di sistem kelistrikan Jawa Madura Bali (Jamali) dalam kondisi kritis dan berpengaruh pada cadangan listrik yang menipis.
 
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana menjelaskan 65 persen atau sekitar 16 gigawatt (GW) pembangkit di sistem Jamali menggunakan pasokan batu bara. Dari kapasitas tersebut, 12 GW dalam kondisi kritis karena cadangan operasi dari batu baranya hanya tahan untuk 5-10 hari apabila tidak ada pasokan batu bara tambahan. Saat ini, pengiriman batu bara terkendala cuaca ekstrem.
 
"Berapa pembangkit yang stockpile batu baranya enggak normal. Cadangan operasinya di bawah 10 hari," kata Rida dalam jumpa pers virtual, Rabu, 27 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan kendati cadangan operasinya 10 hari, namun tidak akan digunakan habis. Rida menyebut, biasanya penggunaan batu baranya akan berhenti hingga tersisa tiga hingga empat hari demi keamanan.
 
Hal ini tentunya memengaruhi cadangan daya pembangkit terhadap beban puncak (reserve margin). Di akhir 2020, reserve margin memang berada di angka 30,10 persen karena adanya oversupply akibat penurunan konsumsi atau permintaan listrik sepanjang pandemi covid-19. Namun, di awal tahun ini, karena adanya kondisi yang tidak normal ini membuat daya yang dihasilkan pembangkit berkurang.
 
"Kemarin oversupply pada saat kondisi normal seolah-olah kondisi batu bara ada tanpa harus mengurangi kapasitas produksi PLN. Sekarang pembangkit siap semua, demand sudah nunggu, tapi stockpile batu bara enggak ada atau telat datang," imbuhnya.
 
Dirinya mengatakan, oversupply diukur dari reserve margin yang selama ini optimumnya mencapai 30 persen. Namun, data pada 25 Januari, daya mampu memasok sistem Jamali 27.099 MW, sementara beban puncak netto 24.500 MW. Sehingga cadangan operasi atau reserve margin-nya sebesar 2.599 MW (10,6 persen). Dengan kondisi ini, kata Rida, pasokan dan cadangan listrik tidak dalam posisi oversupply.
 
"25 Januari, harian kita pantau, reserve margin Jamali 10 persen. Itu buat kita di bawah normal," tutur Rida.
 
Namun demikian, lanjut dirinya, sistem Jamali tetap andal karena ada cadangan operasi yang lebih besar yang berasal dari PLTU Jawa-7 dengan daya mampu 991 MW. Artinya, kapasitas listrik tetap tersedia.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif