Logo Presidensi G20 Indonesia. Foto: Medcom.id/Desi Angriani.
Logo Presidensi G20 Indonesia. Foto: Medcom.id/Desi Angriani.

G20 Harus Sadari Pentingnya Aspek Ketahanan Pangan

Ekonomi pangan Ketahanan Pangan KTT G20 G20 Presidensi G20
Antara • 01 Mei 2022 20:17
Jakarta: Pengamat pangan dan Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan Said Abdullah menyatakan, negara-negara G20 perlu menyadari berbagai dampak peristiwa saat ini menyadarkan pentingnya aspek ketahanan pangan.
 
"Harusnya momentum pandemi dan ditambah lagi adanya perang Rusia Ukraina, menjadikan kita sadar sesadar-sadarnya. Situasi itu telah dengan nyata memengaruhi derajat ketahanan pangan tiap negara," kata Said Abdullah dalam keterangan resminya, dilansir Antara, Minggu, 1 Mei 2022.
 
Dalam konteks Indonesia, menurut dia, jangan lagi negeri ini bergantung kepada pasar pangan global ketika negara-negara lain berlomba memperkuat diri sendiri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia berpendapat, sudah cukup jelas, persoalan pangan yang ada saat ini, mulai dari kedelai, minyak goreng, gandum yang berkontraksi, turut mempengaruhi dan menyebabkan situasi ekonomi, sosial politik berpotensi semakin memanas.
 
"Situasi pandemi makin berat dengan adanya kisruh Rusia Ukraina. Kita tahu kedua negara itu merupakan eksportir pangan dan bahan baku pupuk. Laporan terbaru dari High Level Panel of Experts on Food Security and Nutrition, FAO 2022 menunjukkan sekurangnya ada 30 negara yang langsung terdampak karena perang ini," katanya.
 
Selain 30 negara ini, lanjutnya, perang Ukraina Rusia juga menyebabkan guncangan stok dan harga. Hal ini akan dirasakan semua negara importir termasuk Indonesia yang menjadi salah satu importir gandum terbesar di tingkat internasional.
 
Untuk itu, ujar dia, Indonesia perlu memperkuat diversifikasi produksi pangan pada tingkat desa sampai nasional sehingga RI tidak terlalu tergantung pada pasar pangan global, serta pentingnya membangun sistem pangan yang lebih resilien dan berdaulat.
 
Ia juga menekankan antara lain pentingnya memperkuat sistem proteksi sosial dari yang sudah ada terutama kaitannya dengan keterpenuhan pangan terutama lagi bagi kelompok masyarakat kelas bawah, serta memperbesar dukungan pada petani untuk memperbaiki derajat kehidupannya dengan paket investasi lengkap.
 
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) RI Sri Mulyani dalam acara Tackling Food Insecurity yang merupakan rangkaian IMF-WBG Spring Meetings 2022 di Washington DC, Selasa, 19 April 2022 menyerukan perlunya mengatasi potensi krisis ketahanan pangan sebagai dampak dari perang Rusia-Ukraina.
 
Ia mengemukakan perang dan berbagai tindakan yang menyertainya dinilai telah memicu kenaikan harga komoditas energi dan pangan.
 
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Puji Lestari mengatakan Presidensi G20 Indonesia menjadi momentum penting mendorong kerja sama internasional membangun sistem ketahanan pangan dunia yang berkelanjutan.
 
"Tujuan pembangunan sistem pangan berkelanjutan adalah untuk mewujudkan dunia tanpa kelaparan," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Antara, Jumat, 8 April 2022.
 
Dalam mewujudkan ketahanan pangan global secara berkelanjutan, diperlukan kerja sama antarnegara untuk memastikan perdagangan dan distribusi pangan dapat berjalan dengan baik guna menghadapi krisis.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif