Ilustrasi stunting. Foto: DOk.MI
Ilustrasi stunting. Foto: DOk.MI

Strategi Kementan Tekan Stunting dengan Varietas Padi Bervitamin

Ekonomi kementerian pertanian stunting
Ilham wibowo • 08 Juni 2020 14:46
Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) menyusun strategi untuk menekan angka stunting atau kondisi gagal pertumbuhan pada anak dengan mengimplementasikan hasil riset di sektor pangan. Saat ini, varietas padi bervitamin yang dinamai inpari nutri zinc sudah mulai dipanen para petani di Bogor.
 
Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry mengatakan bahwa hadirnya inovasi varietas pangan fungsional nutri zinc merupakan percepatan hilirisasi teknologi pertanian. Varietas padi sawah yang ditemukan pada 2019 ini diklaim kaya kandungan Zn dan diyakini menjadi salah satu solusi andalan sebagai sumber zat penting untuk mengatasi pemenuhan gizi.
 
"Riset-riset Balitbangtan mulai 2020 dibumikan untuk mendukung berbagai program pemerintah serta turut menjawab kebutuhan masyarakat, petani dan pelaku usaha," kata Fadjry melalui keterangan tertulis, Senin, 7 Juni 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan data deskripsi yang dikeluarkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian 2019 kandungan Zn yang terdapat pada varietas inpari nutri zinc adalah sebesar 34,51 ppm. Sementara varietas lain seperti Ciherang memiliki kandungan 24.06 ppm.
 
Biofortifikasi pada Inpari IR Nutri Zinc diharapkan dapat membantu peningkatan nilai gizi sekaligus mengatasi kekurangan gizi. Sebuah studi menyebut kekurangan Zn dalam tubuh berakibat pada menurunnya daya tahan tubuh, produktivitas, dan kualitas hidup manusia
 
"Kekurangan gizi Zn juga menjadi salah satu faktor penyebab kekerdilan atau stunting di masyarakat," tuturnya.
 
Saat ini, implementasi padi Inpari Nutri Zinc telah dilakukan di wilayah Kota Bogor yang merupakan daerah penyumbang 4,52 persen penderita stunting secara nasional. Varietas yang ditanam di lahan seluas satu hektare (ha) milik Kelompok Tani Fajar Gumbira pun telah dipanen petani saat berumur 110 hari.
 
Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Muhammad Taufiq Ratule mengapresiasi upaya inisiasi para penyuluh yang memasyarakatkan varietas ini di petani Kota Bogor. Pendampingan tersebut terbukti menghasilkan ubinan 7,9 ton/ha GKP dengan perlakuan satu kali pemupukan menggunakan pupuk urea dan ponska.
 
“Dalam rangka dukungan pengentasan angka stunting di Indonesia, varietas ini juga mulai dikembangkan di berbagai daerah melalui sinergi Pemda setempat dan BPTP Balitbangtan,” ungkapnya.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif