Ilustrasi. FOTO: MI/RAMDANI
Ilustrasi. FOTO: MI/RAMDANI

Pengembangan Produksi Pangan Diminta Jangan Melulu Beras

Ekonomi Beras pangan Ketahanan Pangan
Antara • 28 September 2021 10:48
Jakarta: Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Andi Akmal Pasluddin menyatakan pengembangan produksi pangan di Tanah Air jangan hanya melulu diarahkan kepada komoditas beras. Sudah selayaknya perlu lebih digalakkan diversifikasi pangan.
 
"Saat ini, pengembangan pangan musti mulai melebar tidak hanya pada produksi beras," kata Andi Akmal Pasluddin, dilansir dari Antara, Selasa, 28 September 2021.
 
Menurut dia, meskipun beras menjadi fokus utama dengan perkiraan konsumsi masyarakat sebesar 29,58 juta ton, program diversifikasi mesti tetap berjalan sehingga ada alternatif pangan yang secara perlahan dapat dipersiapkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Akmal juga telah melakukan Bimtek dengan tema Pengembangan Komoditi Tanaman semusim dan Rempah yang dikerjasamakan dengan program kementerian pertanian yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Program tanaman semusim ini merupakan program Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian.
 
Ia menjelaskan bahwa tanaman semusim atau tanaman tahunan merupakan istilah agrobotani untuk tumbuhan yang dapat dipanen hasilnya dalam satu musim tanam. Ia mencontohkan beberapa tanaman semusim antara lain tebu cokelat cengkih dan rempah seperti jahe dan kunyit.
 
Untuk tanaman pangan, Akmal mencontohkan salah satu dari tanaman tersebut untuk kawasan beriklim tropika adalah jagung. Sinergi pemerintah dan petani, lanjutnya, mesti kuat untuk tata niaga jagung karena peran jagung sangat penting menjaga ketersediaan daging dan telur ayam.
 
"Itu baru jagung, masih banyak lagi tanaman pangan semusim yang akan menjadi pelengkap pangan masyarakat seperti bengkuang, ubi manis, kimpul, ubi buah, ubi jalar, ubi kayu, ubi gadung, talas bogor, suweg, kacang-kacangan dan lain sebagainya yang saat ini masih belum dimasifkan programnya," tuturnya.
 
Ia menilai langkah diversifikasi ini akan mampu meluas merata seluruh Indonesia, bila ada sinergi para petani yang memproduksi, dan pemerintah yang menyediakan fasilitas untuk proses tata niaganya. Terkait persoalan permodalan, Akmal berpendapat, kerap kali menjadi kendala serius di kalangan petani, karena mereka ini pelaku usaha yang mikro.
 
Saat ini dengan sudah terbentuknya BUMN holding yang menangani ultra mikro yang terdiri dari BRI, pegadaian dan PT PNM (permodalan Nasional Madani), kedepannya ada porsi petani yang dapat di bantu, selain bantuan dari program-program pemerintah khususnya dari Kementan.
 
"Saya berharap, petani tidak bosan-bosannya melakukan bimtek seperti ini. Semangat belajar dan meningkatkan wawasan mesti di lakukan terus menerus seiring perkembangan teknologi, pertambahan jumlah penduduk dan semakin menyempitnya lahan pertanian," pungkas Andi Akmal.
 
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif