Energi Terbarukan. Foto ; AFP.
Energi Terbarukan. Foto ; AFP.

Kendala Pengembangan Energi Terbarukan di Indonesia

Ekonomi Kementerian ESDM Energi Terbarukan
Suci Sedya Utami • 29 September 2020 11:27
Jakarta: Pengembangan energi terbarukan (EBT) di Tanah Air masih sangat kecil. Dalam pembangkit energi listrik terbarukan misalnya, kapasitasnya baru mencapai 10,43 gigawatt (GW). Ini masih jauh dari target bauran EBT sebesar 23 persen di 2025 dengan kapasitas sekitar 20 GW.
 
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) FX Sutijastoto pun menjabarkan kendala pengembangan EBT di Indonesia. Ia bilang pasar EBT di Indonesia masih sangat kecil dan belum mencapai skala keekonomiannya, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Hal ini membuat harga EBT masih tinggi.
 
"Misalnya PLTS sekarang per tahun hanya 100 MW, padahal skala keekonomian 300-350 MW. Akibatnya harga sen per kWh-nya tinggi," kata Toto dalam Bimasena Energy Dialogue, dikutip Selasa, 29 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan harga pembelian listrik EBT belum mencerminkan keekonomian yang wajar dan kurang mendukung bankability project. Kemudian pemanfaatan EBT belum mampu mendukung pengembangan industri EBT dalam negeri secara masif.
 
Toto mengatakan selama ini pengembangan EBT hanya untuk mengejar proyek-proyek dalam APBN yang skalanya kecil. Kebanyakan, kata dia, masih berdasarkan project based.

 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif