Freeport Indonesia. Foto : MI/Agus.
Freeport Indonesia. Foto : MI/Agus.

Freeport: Pembangunan Smelter Jalan Terus

Ekonomi Freeport smelter
Suci Sedya Utami • 23 November 2020 20:38
Jakarta: PT Freeport Indonesia (PTFI) menyatakan proyek pembangunan fasilitas smelter tetap jalan kendati dalam hitungan keekonomian tidak menguntungkan.
 
Presiden Direktur PTFI Clayton Allen Wenas mengatakan meskipun di tengah pandemi ini progres pembangunan smelter yang terletak di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Kabupaten Gresik, Jawa Timur melambat, pihaknya tetap berkomitmen untuk membangun smelter yang menampung konsentrat tembaga dengan kapasitas dua juta ton per tahun.
 
"Meskipun keekonomian enggak bagus, (kita) terus bergerak walaupun karena covid kita tetap jalan. Pekerjaan kan enggak harus di lapangan, pekerjaan office kan jalan. Bukan proyek berhenti, enggak, tetap jalan meski memang lambat sekali," kata pria yang akrab disapa Tony ini ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 23 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam perkembangannya terdapat opsi baru terkait pembagian kapasitas tersebut. Awalnya, PTFI bakal membangun smelter baru di JIPPE dengan kapasitas dua juta ton. Namun dengan sejumlah pertimbangan, khususnya dari sisi keekonomian proyek, kapasitas smelter PTFI akan dibagi, 1,7 juta ton untuk smelter baru. Kemudian 300 ribu ton lainnya akan dikerjakan melalui penambahan kapasitas di smelter existing, yakni PT Smelting.
 
Penambahan kapasitas di smelter existing menyusul penandatanganan nota kesepahaman antara PTFI Mitsubishi Materials Corporation (MMC) pada 13 November 2020. PTFI dan MMC sebagai pemegang saham terbesar di PT Smelting akan bekerja sama untuk meningkatkan kapasitas smelter dari semula satu juta ton per tahun menjadi 1,3 juta ton. Ekspansi ini juga ditargetkan selesai pada akhir Desember 2023.
 
"Yang penting kan totalnya dua juta ton. Komitmen kami kan gitu," ujar Tony.
 
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bahkan menurut dirinya opsi ini bisa lebih menghemat biaya.
 
Ia bilang yang terpenting bagi pemerintah yakni tersedianya fasilitas pengolahan konsentrat tembaga di dalam negeri. Sehingga, pembangunan smelter tembaga baru tetap dibutuhkan.
 
"Kita harus bangun smelter dalam negeri. Kan kapasitasnya sama secara total. Itu bisa menghemat cost daripada bangun (smelter dengan kapasitas) dua juta baru," ujar Arifin.
 
Saat ini progres proyek smelter tembaga baru PTFI itu baru mencapai 5,86 persen. Berdasarkan informasi yang dipaparkan Arifin Tasrif pada ra[at kerja tersebut, tahap konsolidasi pondasi sudah 60-70 persen dan belum memulai tahap piling yang rencananya akan digelar pada Oktober 2020-Januari 2021.
 
Hingga Agustus 2020, investasi yang sudah terserap sebesar USD300 juta dari total investasi yang diperkirakan mencapai USD3 miliar. Arifin menyatakan target penyelesaian proyek ini masih tetap sama.
 
"Direncanakan beroperasi pada 2023," jelas Arifin.

 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif