Ilustrasi pembangkit listrik - - Foto: dok MI
Ilustrasi pembangkit listrik - - Foto: dok MI

Akibat Covid-19, Pemerintah Kurangi Kapasitas Pembangkit Baru

Ekonomi pembangkit listrik Kementerian ESDM pandemi covid-19
Suci Sedya Utami • 25 November 2020 17:34
Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mengurangi penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 10-15 gigawatt (GW) dalam Rancangan Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028.
 
Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman P Hutajulu mengatakan pengurangan tersebut sebagai bagian dari penyesuaian rendahnya konsumsi listrik akibat pandemi covid-19.
 
"Akan ada adjustment, ada pengaturan kembali, saya belum bisa katakan berapa GW. Mungkin paling tidak akan turun 10-15 GW," kata Jisman, Jakarta, Rabu, 25 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan penyesuaian ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya kelebihan pasokan yang kemungkinan tidak terserap akibat permintaan berkurang. Pengurangan tambahan kapasitas ini juga termasuk pembangkit listrik energi terbarukan.
 
Apabila mengacu RUPTL 2019-2028, proyeksi tambahan kapasitas pembangkit listrik ditetapkan sebesar 56,4 GW. Dari besaran tersebut, tambahan kapasitas pembangkit listrik energi terbarukan diproyeksikan sebesar 16,7 GW, yakni pembangkit yang memanfaatkan energi air 9,54 GW, panas bumi 4.607 GW, biomassa 0,79 GW, dan energi lainnya 1,77 GW.
 
Kendati demikian, pemerintah masih tetap mempertimbangkan porsi bauran energi bersih sebesar 23 persen di 2025. “Untuk RUPTL baru yang mau kami terbitkan, mungkin ini akan berkurangan, tetapi tetap mempertahankan angka 23 persen di 2025,” jelas Jisman.
 
Direktur Eksekutif Institute of Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa pun berpandangan bahwa penambahan pembangkit listrik memang disesuaikan dengan permintaan listrik.

 
Meski demikian, pengurangan tambahan kapasitas pembangkit ini tidak seharusnya juga diberlakukan untuk pembangkit energi terbarukan. Jika ingin mengejar target energi terbarukan, maka minimal 80 persen penambahan kapasitas pembangkit baru harus berasal dari pembangkit energi terbarukan.
 
“Jadi intinya, energi terbarukan tidak boleh dikorbankan untuk mencapai target bauran energi 23 persen pada 2025,” tegas Fabby.  
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif