Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Foto: dok Kementerian ESDM.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Foto: dok Kementerian ESDM.

Target 23% EBT di 2025 Berpotensi Tergerus

Ekonomi kementerian esdm energi terbarukan
Suci Sedya Utami • 20 Mei 2020 07:58
Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan potensi ketidaktercapaian target energi baru terbarukan (EBT) di sektor ketenagalistrikan 2025 lantaran adanya program fast track II yang tidak selesai.
 
Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Haryanto mengatakan dengan tidak terpenuhinya fast track II membuat target bauran energi, termasuk EBT, dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) hingga 2025 tidak akan tercapai.
 
"Dengan tidak terpenuhinya fast track II PLN, sehingga RUPTL jadi tidak akan tercapai di 2025," kata Haryanto dalam webinar green energy, Selasa, 19 Mei 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dirinya mengatakan dengan bauran energi dalam RUPTL yang tidak tercapai tentu akan menggerus persentase dari target EBT nasional sebesar 23 persen di 2025. "Sebab proyek EBT (di RUPTL) itu enggak terealisasi," ujar dia.
 
Haryanto mengatakan ketidaktercapaian target tersebut bisa ditutup dengan program energi surya nusantara yang saat ini tengah digalakan yakni dengan membangun dan menyediakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap.
 
"Kalau energi surya nusantara sebagian yang bisa di-purpose direalisasikan, kapasitasnya satu giga watt (GW) cukup signifikan untuk PLTS," ucap Haryanto.
 
Haryanto juga menjabarkan strategi pengembangan PLTS skala besar dengan menggunakan bekas lahan tambang atau tambang terlantar yang lahan konsesinya sudah dikembalikan ke Pemda.
 
Ia bilang PLTS di area bekas lahan tambang yang dibidik dengan luas sebesar 2.700 hektare mencapai 2.300 mega watt (M) di antaranya di Bangka Belitunng 1.250 MW, Kutai Barat 1.000 MW, Kutai Karta Negara 53 MW.
 
Kemudian PLTS Terapung dengan kapasitas 857 MW yang terbagi di area Waduk Wonogiri, Waduk Sutami, Waduk Jatiluhur, Waduk Mrica, Waduk Saguling, Waduk Wonorajo, dan Danau Singkarak.
 
Serta, lanjut dia, pengembangan PLTS di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) dan program hybrid di pulau-pulau terkecil.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif