Foto: Grafis Medcom.id
Foto: Grafis Medcom.id

Antivirus Eucalyptus Kementan Perlu Uji Klinik

Ekonomi Kementerian Pertanian Kalung Eucalyptus
Husen Miftahudin • 05 Juli 2020 11:18
Jakarta: Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengapresiasi inisiatif Kementerian Pertanian (Kementan) mempromosikan kandungan minyak atsiri dari daun kayu putih (eucalyptus) sebagai antivirus covid-19. Sebelum produk obat itu ditawarkan kepada masyarakat, ia meminta Kementan mengikuti protokol pengujian obat baru.
 
"Tentang khasiatnya, saya berharap agar jajaran Kementan bijaksana. Sebab, sejauh ini, baru jajaran Kementan yang membuat klaim tentang khasiat produk obat itu," ujar Bamsoet dalam keterangan yang diterima Medcom.id, Minggu, 5 Juli 2020.
 
Bamsoet menilai, di tengah kegelisahan karena tidak adanya vaksin yang mampu menetralisir ekses virus covid-19, pencapaian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan itu layak diapresiasi. Namun, seperti juga upaya serupa oleh para ahli di sejumlah negara, produk dari Kementan tersebut sebaiknya tetap menjalani prosedur uji klinik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Untuk menghindari kesan tentang klaim sepihak, produk antivirus korona dari Kementan itu sebaiknya mengikuti dulu protokol pengujian atau uji klinik untuk produk baru obat dan herbal. Termasuk pengujian khasiatnya pada manusia," ucap Bamsoet.
 
Ia menambahkan, kehadiran dan keterlibatan pihak lain dalam uji klinik obat baru sangat diperlukan. Tidak hanya untuk kepentingan kebenaran tentang khasiat obat itu, melainkan juga untuk memperkuat klaim atas khasiat obat atau herbal produk baru itu.
 
"Untuk kepentingan uji klinik itu, sangat relevan jika Kementan bersinergi atau bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebagai obat atau herbal produk baru, tahap pengujiannya pun harus melibatkan pihak lain yang relevan," tuturnya.
 
Balitbangtan Kementan sebelumnya berhasil mendapatkan hak paten dari penemuan antivirus berbasis eucalyptus. Bahkan Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry sudah berkolaborasi dengan PT Eagle Indo Pharma (Cap Lang) untuk melakukan produksi massal antivirus tersebut.
 
Ia mengklaim eucalyptus dikenal mampu bekerja melegakan saluran pernapasan, menghilangkan lendir, pengusir serangga, disinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual, dan mencegah penyakit mulut. Minyak atsiri eucalyptus citriodora itu bisa menjadi antivirus terhadap virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, gamma corona virus, dan betacoronavirus.
 
Penemuan tersebut disimpulkan melalui uji molecular docking dan uji in vitro di Laboratorium Balitbangtan. Ia menjelaskan laboratorium tempat penelitian eucalyptus telah mengantongi sertifikat level keselamatan biologi atau biosafety level 3 (BSL 3) milik Balai Besar Penelitian Veteriner.
 
Virologi Kementan pun sudah melakukan penelitian sejak 10 tahun lalu dan tak asing dalam menguji golongan virus corona seperti influenza, beta corona dan gamma corona.
 
"Setelah kita uji ternyata eucalyptus sp. yang kita uji bisa membunuh 80-100 persen virus mulai dari avian influenza hingga virus korona. Setelah hasilnya kita lihat bagus, kita lanjutkan ke penggunaan nanoteknologi agar kualitas hasil produknya lebih bagus," bebernya.
 
Dalam berbagai studi dikatakan bahwa obat ini hanya cukup 5-15 menit diinhalasi akan efektif bekerja sampai ke alveolus. Artinya dengan konsentrasi satu persen saja sudah cukup membunuh virus 80-100 persen.
 
Bahan aktif utamanya terdapat pada cineol-1,8 yang memiliki manfaat sebagai antimikroba dan antivirus melalui mekanisme M pro. M pro adalah main protease (3CLPro) dari virus corona yang menjadi target potensial dalam penghambatan replikasi virus korona.
 
Penelitian pun menunjukkan eucalyptol ini berpotensi mengikat protein Mpro sehingga menghambat replikasi virus. Manfaat tersebut dapat terjadi karena 1,8 cineol dari eucalyptus disebut eucalyptol dapat berinteraksi dengan transient receptor potential ion chanel yang terletak di saluran pernapasan.
 
"Ini bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas, secara laboratorium secara ilmiah kita bisa buktikan. Paling tidak ini bagian dari upaya kita, minyak eucalyptus ini juga sudah turun temurun digunakan orang dan sampai sekarang tidak ada masalah," tutup Fadjry.
 

(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif