Ilustrasi daun tembakau. Foto: Medcom.id.
Ilustrasi daun tembakau. Foto: Medcom.id.

Serap Tenaga Kerja, Pemerintah Diimbau Jangan Naikkan Tarif Cukai Rokok

Ekonomi industri rokok cukai tembakau
Eko Nordiansyah • 30 Oktober 2020 16:07
Jakarta: Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia (Formasi) menolak rencana kenaikan cukai rokok oleh pemerintah untuk tahun depan. Pemerintah diminta lebih peka dengan tidak menaikkan tarif cukai Sigaret Kretek Tangan (SKT), atau dengan kenaikan yang sewajarnya saja.
 
SKT merupakan sektor padat karya yang menyerap banyak sekali tenaga kerja, khususnya tenaga kerja perempuan. Saat ini, SKT masih tertekan akibat kenaikan cukai sebesar 23 persen tahun ini, sehingga pekerjanya terancam kehilangan pekerjaan jika cukai naik secara eksesif.
 
"Untuk SKT golongan III, II, I saya harap jangan dinaikkan karena di situ banyak tenaga kerja," kata Ketua Harian Formasi Heri Susanto kepada wartawan di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Heri menyatakan kenaikan cukai rokok di 2021 tentunya akan membebani pelaku usaha IHT, karena praktis baik barang maupun peredarannya akan dibatasi dan diawasi. Untuk itu, ia mendesak pemerintah untuk kenaikan cukai pada single digit saja.
 
"Coba kita hitung-hitungan, komponennya sudah jelas, pakar-pakar ekonomi sudah jelas, inflasinya berapa, pertumbuhan ekonominya berapa. Sebaiknya (kenaikan) tarif cukai di tujuh sampai 10 persen," ungkapnya.
 
Ia mengungkapkan pemerintah untuk ketiga kalinya berbeda dalam menentukan tarif dan langsung melakukan rapat terbatas. Menurut Heri, dulu rapat dilakukan dengan Badan Kebijakan Fiskal dan Menteri Keuangan saja, saat ini sudah berubah.
 
"Pemerintah juga harus dengarkan masukan dari seluruh pemangku kepentingan IHT, termasuk petani tembakau dan pabrikan. Biar yang happy pengusaha, karyawan, petani, masyarakat. Kalau pemerintah saja yang happy tapi pekerjanya tidak enak, kan tidak baik," ujar dia.
 
Gabungan Perusahaan Rokok (Gapero) Malang sebelumnya menolak kenaikan tarif cukai rokok untuk tahun depan. Alasannya, industri hasil tembakau tengah terdampak pandemi covid-19, sehingga dinilai akan menurunkan serapan tenaga kerja dan bahan baku tembakau.
 
Senada, Ketua Gapero Surabaya Sulami Bahar sebelumnya juga mendesak pemerintah agar tidak menaikkan cukai rokok dengan besaran tarif tersebut. Alasannya pun sama, yakni kenaikan cukai akan menyebabkan penurunan produksi dan serapan tenaga kerja.
 
"Kalau cukai naik sampai 17 persen itu benar, kami prediksi produksi akan terjadi penurunan sekitar 40 sampai 45 persen pada 2021," kata Sulami.
 
Itulah sebabnya Gapero meminta agar pemerintah tidak mengubah kebijakan tarif cukai yang sudah ada. Saat ini memang belum ada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), namun Gapero tidak bisa menjamin serapan tenaga kerja jika cukai tembakau terlalu tinggi.
 
"Secara logis kalau terjadi penurunan produksi, pasti ada rasionalisasi tenaga kerja dan penurunan serapan bahan baku. Gapero tidak menolak sepenuhnya kenaikan cukai 2021, asalkan kenaikannya tidak terlampau tinggi. Ya naik moderatlah," ungkap dia.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif