Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar. Foto: dok MRT.
Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar. Foto: dok MRT.

Jepang Belum Minat Bikin Kereta MRT Jakarta, Kenapa Tak Pakai INKA?

Ekonomi mrt Proyek MRT
Syah Sabur • 20 Oktober 2020 09:07
Jakarta: Tender pengadaan kereta untuk MRT fase dua, lagi-lagi gagal. Hingga kini tidak ada kontraktor Jepang yang tertarik dalam proyek pengadaan kereta atau rolling stock untuk fase II (Bundaran HI-Kota) atau dikenal dengan CP 206.
 
Walaupun PT MRT Jakarta sudah melakukan market sounding, namun belum kunjung memperoleh peminat dari Jepang untuk menggarap proyek tersebut.
 
Adapun CP 206 merupakan pengadaan rolling stock. Jika CP 202 dan 205 mundur, maka CP 206 juga mundur. Jadi, menurut dia, ini melayani seluruh kebutuhan konstruksi, sistem, ini terkendala.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena ketika kita market sounding di Jepang, minat kontraktor Jepang untuk mengikuti paket ini boleh dikatakan nihil atau tidak ada," ungkap Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar dalam Forum Jurnalis yang digelar daring, Senin, 19 Oktober 2020.
 
Sebenarnya PT Industri Kereta Api (INKA) mampu mengisi kebutuhan kereta untuk paket CP 206. Sebab, INKA sudah terbukti mampu membuat LRT. Masalahnya, proyek MRT Jakarta Fase II ini didanai oleh pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan mekanisme STEP Loan atau Tied Loan. Dengan demikian, proyek itu hanya bisa digarap oleh perusahaan Jepang sebagai kontraktor utama.
 
"Kalau ketentuannya memang karena mekanismenya tied loan,memang kontraktornya harus dari Jepang," jelas William.
 
Untuk CP 206 ini, MRT Jakarta hanya membutuhkan enam kereta untuk rute Bundaran HI-Kota (Fase II-A), lalu butuh tambahan delapan kereta lagi untuk rute Kota-Ancol Barat (Fase II-B).
 
"Total terdapat 14 kereta yang dibutuhkan, jika proyek Fase II-A dan II-B digabungkan. Namun, para kontraktor di Jepang tak juga tertarik," tutur William.
 
Padahal Fase II A sudah digabung dengan Fase II B. "Ini dilakukan virtual dengan manufaktur dan trading company di Jepang. Kemudian manufaktur dan perusahaan dagang responsnya negatif, karena semua pihak menyatakan tidak tertarik dan adanya gap dalam jadwal Fase II-A (Bundaran HI-Kota) dan Fase II-B. Karena memang ada gap antara Fase II-A dan II-B," jelasnya.
 
Selain itu, para kontraktor Jepang juga masih sibuk memenuhi pesanan kereta untuk proyek-proyek di negara lain. Pada saat ini kontraktor Jepang sedang membangun proyek MRT di kawasan seperti di Manila dan Vietnam.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif