Geliat perekonomian Tiongkok yang telah pulih usai penyebaran virus korona (covid-19) belum bisa sepenuhnya memberikan sentimen posiif pada perekonomian. FOTO: Internationalbusinesstribune
Geliat perekonomian Tiongkok yang telah pulih usai penyebaran virus korona (covid-19) belum bisa sepenuhnya memberikan sentimen posiif pada perekonomian. FOTO: Internationalbusinesstribune

Geliat Perekonomian Tiongkok Belum Bisa Pulihkan Pasar

Ekonomi tiongkok ekonomi indonesia virus corona
Annisa ayu artanti • 02 April 2020 18:51
Jakarta: Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai geliat perekonomian Tiongkok yang telah pulih usai penyebaran virus korona (covid-19) belum bisa sepenuhnya memberikan efek positif pada perekonomian global, termasuk pasar saham Indonesia.
 
David mengakui beberapa data-data perekonomian Tiongkok seperti konsumsi batu bara, penjualan rumah, dan data penumpang angkutan umum serta data angkutan barang di pelabuhan sudah mengalami peningkatan tapi data-data tersebut belum memberikan efek domino kepada perekonomian dunia.
 
Menurutnya, pasar masih memperhatikan kondisi perekonomian Amerika Serikat dan Eropa akibat dari penyebaran covid-19. Selain Tiongkok, dua wilayah tersebut merupakan representasi perekonomian dunia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Di sisi lain dua ekonomi terbesar di Amerika dan Eropa masih menurun. Jadi Tiongkok ini kan hanya representasi sekitar 16 persen ekonomi global. Sedangkan Amerika dan Eropa itu representasi separuh dari ekonomi global, 50 persen," jelas David kepada Medcom.id, Kamis, 2 April 2020.
 
David juga menjelaskan, akar permasalahan yang ada saat ini adalah penyebaran covid-19 yang menyebabkan dampak bagi perekonomian global. Saat ini kondisi dua wilayah dengan ekonomi terbesar tersebut masih memperhatikan.
 
Ia menyebut jumlah pengangguran di dua wilayah tersebut terus mengalami peningkatan. Hal tersebut yang membuat kekhawatiran bagi pasar.
 
Bisa dilihat, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menguat tertahan. Pasar saham Indonesia belum terlalu merespons kondisi pemulihan perekonomian Tiongkok sehingga masih penguatannya masih cenderung terbatas.
 
"(Pengangguran) kenaikan sampai 3,3 juta orang itu mengkhawatirkan pasar juga itu. Dan kelihatannya belum akan pulih dalam waktu dekat," tukasnya.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif