Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini. Foto : MI.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini. Foto : MI.

Terbesar di ASEAN, PLTS Terapung Cirata Ciptakan Dampak Ekonomi Lokal dan Nasional

Ekonomi PLN PLTS asean vaksin covid-19
Suci Sedya Utami • 03 Agustus 2021 21:32
Jakarta: Indonesia akan memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Solar (PLTS) Terapung dengan kapasitas 145 MWAc. PLTS Terapung Cirata akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara (ASEAN).
 
Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini mengatakan pembangkit ini ditargetkan akan beroperasi komersial (COD) pada November 2022. Pembangunan PLTS ini akan menciptakan dampak positif bagi perekonomian nasional.
 
Zulkifli mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menjadikan listrik sebagai alat dalam menciptakan kualitas kehidupan masyarakat dan menjadi pendorong perekonomian.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Proyek ini diharapkan membawa manfaat ekonomi dan industri lokal. Diperkirakan pembangunan PLTS ini akan terdapat kebutuhan tenaga kerja lokal dan memanfaatkan komponen dalam negeri untuk modul surya," kata Zulkifli dalam Deklarasi Financial Close PLTS Apung Cirata secara virtual, Selasa, 3 Agustus 2021.
 
Dalam kesempatan yang sama, Direktur PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Gong Matua Hasibuan mengatakan proyek ini akan menarik investasi asing (foreign direct investment/FDI). Nilai investasi proyek ini ditaksir sebesar USD145 juta atau setara Rp2,1 triliun.
 
Dari kebutuhan tersebut, 80 persennya didanai oleh lender atau tiga perbankan asing dan 20 persennya berasal dari ekuitas PT Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi (PMSE) yang merupakan perusahaan patungan antara  PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI) dengan kepemilikan saham 51 persen dan perusahaan asal UEA Masdar 49 persen. Investasi yang masuk akan menciptakan lapangan pekerjaan. Disebutkan kebutuhan tenaga kerja pada masa konstruksi sekitar 500-800 pekerja.
 
"Proyek ini juga akan meningkatkan industri dalam negeri khususnya industri modul surya dan floating storage, mengingat proyek ini berkomitmen untuk memenuhi unsur TKDN 40 persen," tutur Gong.
 
Di sisi lan, PLTS ini memiliki tarif yang kompetitif yakni USD5,8 per kilowatt hour (kWh) yang diharapkan akan membantu menurunkan beberapa di sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali. Proyek ini, lanjut Gong, juga menjadi pionir dengan inovasi teknologi yang pertama di Indonesia. Serta akan meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.

 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif