Ilustrasi. FOTO: Kementerian ESDM
Ilustrasi. FOTO: Kementerian ESDM

Industri Pengeboran Dukung Target 1 Juta Barel, Syaratnya...

Ekonomi migas skk migas Minyak Mentah
Suci Sedya Utami • 13 November 2020 10:54
Jakarta: Asosiasi Perusahaan Pemboran Minyak, Gas, dan Panas Bumi Indonesia (APMI) mendukung target peningkatan produksi minyak satu juta barel per hari (bph) di 2020. Target tersebut bisa tercapai dengan kerja sama antar semua pihak baik pemerintah, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) maupun APMI.
 
Namun demikian, APMI meminta agar nasib industri pendukung hulu migas diperhatikan. Ketua APMI Wargono Soenarko mengatakan industri penunjang hulu migas kerap kali mendapat perlakuan yang curang dari KKKS. Menurutnya banyak industri pengeboran yang tidak mendapat bayaran setelah selesai kontrak.
 
"Contohnya banyak anggota kami yang sudah bekerja, kita kan bekerja dulu baru dibayar. Itu banyak tumpukan utang hampir USD300 juta sampai sekarang enggak dibayar. Saya harap KKKS yang benar, yang adil, yang bermitra bukan seperti atasan dan bawahan," kata Wargono, dalam diskusi virtual APMI, Kamis, 12 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dirinya meminta agar kontrak on call basis yang tidak adil dihilangkan. Selain itu, di tengah pandemi dan anjloknya harga minyak mentah dunia saat ini, diharap agar perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tergabung dalam APMI dapat melakukan kolaborasi dengan mengajak perusahaan jasa pengeboran yang saat ini sempoyongan untuk bekerja sama.
 
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Perencanaan SKK Migas Jaffee Suardin berharap agar APMI dan KKKS dapat mencari solusi yang terbaik dari segi bisnis. Apalagi semuanya bertujuan untuk menggenjot produksi.
 
"Kalau ada masukan, ada kasus khusus mohon kontak saya. Supaya bisa kami dengarkan dan ikut membantu. Bisnis harus win-win bukan saling zalim," kata Jaffee.
 
Sementara itu, VP Drilling & Well Intervention Anto Sunaryanto sebagai bagian dari KKKS menyatakan siap berdiskusi lebih lanjut untuk membahas persoalan ketidakadilan yang dikeluhkan industri penunjang hulu migas.
 
Apalagi di tengah kondisi anjloknya harga minyak mentah dunia saat ini menyebabkan industri jasa pengeboran juga turut terpuruk. "Itu mungkin yang bisa didiskusikan, bisa diskusi di sini atau mungkin kita bisa berdiskusi offline setelah itu," tutur Anto.
 
Sejak pandemi covid-19 terjadi pada awal tahun ini, harga minyak mentah dunia anjlok. KKKS pun mulai mengurangi kegiatannya. Langkah efisiensi tersebut turut berdampak ke industri penunjang migas, seperti perusahaan jasa konstruksi dan pengeboran.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif