Penjualan perdana 7.000 liter green surfactant buatan Petrokimia Gresik dengan tujuan KSO Pertamina EP-Samudra Energy BWP Meruap di Sarolangun, Jambi. Istimewa
Penjualan perdana 7.000 liter green surfactant buatan Petrokimia Gresik dengan tujuan KSO Pertamina EP-Samudra Energy BWP Meruap di Sarolangun, Jambi. Istimewa

Petrokimia Gresik Jual 7.000 Liter Surfaktan 'Hijau' Pertama Buatan Indonesia

Ekonomi Produk Dalam Negeri pupuk indonesia Petrokimia Gresik
Surya Perkasa • 04 Mei 2021 19:22
Jakarta: Petrokimia Gresik, anggota holding Pupuk Indonesia, mengirim 7.000 liter Green Surfactant penjualan perdana. Produk surfaktan pertama produksi Indonesia ini diproduksi atas kerja sama dengan Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC) Institut Pertanian Bogor (IPB).
 
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo, mengatakan pengiriman penjualan perdana surfaktan Merah Putih ini dikirim ke KSO Pertamina EP-Samudra Energy BWP Meruap di Sarolangun, Jambi, Selasa, 4 Mei 2021. Produk ini diyakini dapat menyokong sejumlah industri dalam negeri.
 
Produk ini, kata Dwi, dimanfaatkan untuk bidang farmasi dan industri pembersih seperti detergen. Surfaktan juga digunakan untuk keperluan eksplorasi minyak bumi dengan metode Improved Oil Recovery (IOR) dan Enhanced Oil Recovery (EOR).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Green Surfactant merupakan terobosan penting yang dapat mendukung industri minyak dan gas (migas) di tanah air agar semakin efisien dan ramah lingkungan," ujar Dwi Satriyo dalam keterangan tertulis, 4 Mei 2021.
 
Untuk migas, surfaktan diinjeksikan ke dalam bumi. Minyak bumi yang masih menempel di bebatuan akan terlepas dan lebih mudah disedot dengan pompa.
 
Baca: Kemenperin Pasok SDM Andal Dongkrak Kinerja Industri Petrokimia
 
Surfaktan ini mampu meningkatkan produktivitas sumur minyak bumi. Bahkan, produk ini mampu mengeluarkan minyak mentah dari lapangan atau sumur minyak tua yang sudah tidak berproduksi lagi.
 
“Dengan menggunakan Green Surfactant akan ada biliunan barel minyak yang awalnya ditinggal karena susah disedot sekarang bisa dioptamilasisasi,” ujar Dwi.
 
Green Surfactant akan menggantikan penggunaan surfaktan berbasis hidrokarbon yang umum digunakan industri migas di Indonesia. Surfaktan berbasis hidrokarbon ini harus diimpor dari luar negeri dengan harga yang lebih mahal dan fluktuatif karena dipengaruhi harga minyak mentah (crude oil) dunia.
 
“Oleh karena itu, Green Surfactant memiliki potensi pasar yang besar mengingat harganya lebih kompetitif dan lebih ramah lingkungan. Di sisi lain sumur migas di Indonesia juga sangat banyak,” ujar Dwi Satriyo,
 
Petrokimia Gresik mendapat dukungan pemasaran and bantuan teknis dari Komunitas Migas Indonesia (KMI). Setelah pengiriman ke KSO Pertamina EP-Samudra Energy BWP Meruap, Petrokimia Gresik akan mengirimkan 3.500 liter Green Surfactant ke Sumur Kawengan Cepu, Provinsi Jawa Tengah.
 
“Ini menjadi bukti Green Surfactant produksi Petrokimia Gresik sangat diminati industri migas di tanah air,” kata dia.
 
Baca: Industri Petrokimia Usulkan Sistem PPN yang Ramah Investasi
 
Kapasitas produksi Green Surfactant Petrokimia Gresik mencapai 600 kiloliter (kL) per tahun. Melihat potensi pasar yang masih sangat terbuka lebar, Dwi berharap produksi Green Surfactant dapat ke depannya. Tidak lagi sekadar miniplant, tetapi dalam skala yang lebih besar lagi.
 
Hadirnya produk Green Surfactant ini juga menjadi bentuk dukungan Petrokimia Gresik terhadap target produksi crude oil.  Pemerintah melalui SKK Migas menargetkan produksi minyak mentah 1 juta barel per hari.
 
(SUR)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif