Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry - - Foto: dok kementan
Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry - - Foto: dok kementan

Alasan Kementan Ikut Mengurusi Antivirus Covid-19

Ekonomi Kementerian Pertanian Kalung Eucalyptus
Ilham wibowo • 07 Juli 2020 17:10
Jakarta: Kepala Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry mengungkapkan keikutsertaan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam penemuan kalung antivirus berbasis eucalyptus. Penemuan tersebut merupakan kelanjutan hasil riset dari penelitian virus hewan dan tumbuhan sebelum pandemi covid-19 merebak.
 
"Balitbangtan sebagai salah satu unit eselon 1 di bawah Kementan memiliki mandat melakukan penelitian dan pengembangan, termasuk meneliti potensi eucalyptus yang merupakan salah satu jenis tanaman atsiri," kata Fadjry, Selasa, 7 Juli 2020.
 
Saat awal pandemi covid-19 muncul di Indonesia, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) sudah menginventarisasi beberapa tanaman potensial sebagai peningkat imunitas dan juga antivirus. Data ini diperoleh dari hasil-hasil penelitian selama hampir 40 tahun Balittro berdiri maupun dari publikasi ilmiah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ada sekitar 50 tanaman yang diidentifikasi, dan lebih 20 yang sudah diekstraksi dan diketahui bahan aktifnya," ujarnya.
 
Selanjutnya, bahan dasar yang punya potensi tinggi membunuh virus itu dilakukan pengujian oleh Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet). Bahan aktif pada eucalyptus kemudian diketahui paling bereaksi terhadap kemampuan antivirus pada virus influenza dan virus korona model yakni beta-corona dan gamma-corona.
 
Di Indonesia, saat ini belum ada laboratorium yang mampu menumbuhkan virus SARS-CoV-2 pada sel kultur. Akan tetapi, hasil pengujian menunjukkan beberapa ekstrak tanaman potensial sebagai antivirus pada pengujian in vitro pada media tumbuh.
 
"Dengan konsentrasi terukur minyak eucalyptus mampu membunuh hingga 100 persen virus influenza maupun virus korona," ungkap dia.
 
Fadjry menyatakan bahwa hasil temuan peneliti virus Kementan yang cukup positif itu kemudian mendapat dukungan dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo agar bisa dimanfaatkan masyarakat. Sebelum mendapatkan hak paten, hasil riset juga telah di uji coba kepada pasien yang terkonfirmasi positif covid-19.
 
Survey dilakukan secara sukarela terhadap sembilan orang reaktif rapid test dan enam orang di antaranya positif covid-19 berdasarkan hasil test swab. Respons positif yang didapatkan di antaranya pengguna merasakan khasiat yang dapat melegakan saluran pernapasan, merasa lebih segar dan merasakan ketenangan.
 
Manfaat umum yang dirasakan pengguna dapat meringankan gejala seperti sesak napas dan hidung tersumbat, mencegah infeksi dan menjaga kesehatan. Khasiat spesifik setelah menggunakan produk di antaranya melegakan pernapasan, menghilangkan pusing, mual dan nyeri lainnya serta perasaan lebih nyaman dan tenang.
 
"Saya sesuai arahan Bapak Mentan mencoba melakukan sesuatu untuk bangsa dan negara dari potensi yang kita miliki," bebernya.
 
Tahapan selanjutnya dari penelitian ini, lanjut Fadjry, yakni pengembangan produk dengan bahan dasar minyak eucalyptus oleh Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen). Fasilitas ini memiliki kompetensi termasuk pengembangan produk berbasis nanoteknologi.
 
Terdapat lima bentuk purwarupa yang dikembangkan, yaitu roll on, inhaler, balsam, minyak aromaterapi, dan kalung aromaterapi. Paten atas produk eucalyptus pun telah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dan sudah dilisensi oleh mitra industri.
 
Selain itu, izin edar dari BPOM sebagai obat tradisional sudah keluar untuk pemasaran mitra industri. Izin edar tersebut tentunya sudah melewati proses evaluasi oleh Tim Pakar dari BPOM terkait kemampuannya.
 
"Kementan adalah Lembaga pemerintahan, bukan perusahaan sehingga tidak mungkin memproduksi suatu produk. Kementan dalam hal ini adalah penghasil teknologi termasuk produk eucalyptus," ucapnya.
 
Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam mengakui bahwa SDM Balitbangtan memiliki kemampuan meneliti virus. Peralatan penunjang mendukung dengan adanya laboratorium level 3 keselamatan biologi atau biosafety level 3 (BSL3) yang aman untuk meneliti penyakit antara lain anthrax, HIV, SARS, tubercolosis, virus cacar, thypus, dan avian influenza (flu burung).
 
"Beliau (Peneliti di BB Litvet) pernah bekerja dengan flu burung artinya virus buat beliau adalah pekerjaan sehari-hari melakukan riset di bidang virus. Saya tahu di sana ada fasilitas BSL2 dan BSL3 sehingga memungkinkan untuk melakukan aktivitas riset di bidang virus ini," ucap Ari.
 

(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif