Ilustrasi test PCR - - Foto: Medcom
Ilustrasi test PCR - - Foto: Medcom

Penaikan Tiket Maskapai Mesti Diimbangi Pelonggaran Tes PCR

Ekonomi penerbangan Tarif Tiket Pesawat Kenormalan Baru
Suci Sedya Utami • 06 Juni 2020 17:23
Jakarta: Pengamat penerbangan Arista Atmadjati menilai opsi penaikan tarif tiket maskapai merupakan hal wajar di tengah ambruknya binis maskapai. Namun opsi tersebut perlu diimbangi dengan pelonggaran persyaratan berupa tes polymerase chain reaction (PCR).
 
Biaya tes PCR sebesar Rp2,5 juta jauh lebih mahal ketimbang harga tiket untuk rute Jakarta-Surabaya yang sebesar Rp1 juta untuk satu kali perjalanan. Sementara penumpang harus melakukan dua kali tes PCR jika ingin kembali ke tempat semula.
 
"Biaya PCR itu kan beban banget, semua maskapai teriak. Misal Jakarta-Surabaya harganya Rp1 juta, pulang pergi Rp2 juta. PCR-nya Rp2,5 juta, lebih mahal PCR-nya," kata Arista kepada Medcom.id, Sabtu, 6 Juni 2020

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut tes PCR memiliki kadaluwarsa waktu hanya satu minggu. Jika penumpang memiliki urusan ke luar daerah lebih dari seminggu, maka penumpang tersebut harus melakukan tes PCR ulang. Hal ini pula yang membuat banyak maskapai teriak lantaran takut tidak dapat menarik penumpang.

 
"Banyak maskapai ngambek enggak mau terbang. Lion Air sama Citilink sementara enggak mau terbang dulu, penumpang mereka kan menengah ke bawah," ujar dia.
 
Karena itu, pemerintah harus turun tangan memberikan solusi agar maskapai tak semakin merugi. Misalnya calon penumpang pesawat bisa hanya menggunakan tes rapid yang harganya jauh lebih murah, atau bisa mendapatkan diskon untuk biaya PCR 50 persen.
 
"Naikkin tarif pesawat enggak apa-apa, cuma cari surat tes rappid kan lebih murah. Menurut saya tes rappid cukuplah. Atau PCRnya jangan segitu, pakai PCR boleh tapi tarifnya 50 persen misalnya asal penumpang bisa menunjukkan bahwa dia punya tiket," jelas Arista.
 
Sebelumnya, Kementerian BUMN membuka opsi untuk menaikkan harga tiket penerbangan demi menyelamatkan kondisi Garuda Indonesia yang dihantam pandemi covid-19.
 
Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan dengan pembatasan pengangkutan penumpang di era kenormalan baru (new normal) yang hanya boleh terisi 50 persen dari total kapasitas kursi pesawat, tentunya akan memukul kinerja keuangan maskapai nasional tersebut.
 
"Jangan-jangan kita perlu juga untuk menaikkan tiket Garuda, karena dengan hanya setengah yang bisa diisi oleh Garuda pesawatnya itu sangat berat dengan kondisi sekarang" kata Arya.

 

(Des)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif