NEWSTICKER
Rachmad Gobel (FOTO MI/PANCA SYURKANI)
Rachmad Gobel (FOTO MI/PANCA SYURKANI)

Rachmad Gobel: Ini Momentum Bangkitkan Industri Indonesia

Ekonomi Virus Korona
Mohammad Adam • 24 Maret 2020 14:04
Jakarta: Wakil Ketua DPR RI Rachmad Gobel menyatakan ada hikmah yang bisa diambil di balik merebaknya wabah virus Korona atau Covid-19 yang terjadi sekarang ini. Yaitu membuat terobosan baru bagi kemandirian ekonomi Indonesia.
 
Penyebaran Covid-19 menjadi momok bagi masyarakat global. Kondisi ini berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia.
 
Apalagi, Indonesia dinilai belum mampu menopang sendiri industri dalam negerinya. Lantaran masih mengimpor bahan baku dari Tiongkok. Permasalahan inilah yang menjadi perhatian serius bagi Wakil Ketua DPR RI Rachmad Gobel.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kita terlalu bergantung kepada produk dari China” ujar Rachmad Gobel dalam perbincangan dengan Medcom.id di Jakarta, Rabu 11 Maret 2020.
 
Menurut Rachmad, ketika industri dalam negeri masih bergantung kepada produk impor, maka sulit bagi Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi.
 
“Bagaimana kita bisa membangun industri yang kuat? Tentu perlu mengurangi ketergantungan dari impor. Apabila kita bergantung kepada suatu negara, otomatis ini akan berpengaruh kepada proses industri di dalam negeri kita. Tidak hanya itu saja, ekspor juga akan terganggu”, kata dia.
 
Rachmad pun menyoroti usulan Omnibus Law dari pemerintah. Menurutnya, sejumlah ketentuan di dalamnya patut dikritisi demi mendorong penguatan industri dalam negeri sekaligus menciptakan iklim investasi yang lebih baik.
 
“Saya setuju dan mendorong Omnibus Law. Tetapi investasi dan industri seperti apa yang kita harapkan? Kalau Omnibus Law kita kita dukung, tetapi visi kita dalam membangun industri kita tidak kuat, investasi yang kita butuhkan jangka panjang, kalau pendek, Omnibus Law tidak perlu. Akhirnya ya sama seperti sekarang, tidak ada nilai tambah,” paparnya.
 
Padahal, ia melanjutkan, yang diperlukan bagi industri di Indonesia adalah menciptakan lebih banyak nilai tambah.
 
"Investasi bukan hanya untuk memperbanyak lapangan kerja, tetapi juga nilai tambah di dalam negeri ini. Itu yang terpenting,” imbuhnya.
 
Terkait pandemi Covid-19, Rachmad mencermati bahwa ini bukan yang pertama kalinya Indonesia menghadapi serangan wabah global. Ia menyebut sebelumnya ada SARS, MERS, atau Flu Burung. Tetapi, berkali-kali pun peristiwa serupa ini terjadi, Indonesia selalu gagal dalam menghentikan ketergantungan pada produk impor dan memanfaatkan situasinya untuk membangkitkan industri dalam negerinya.
 
Kini, dengan gejala aktivitas ekonomi yang lesu karena wabah Korona di Tiongkok, Rachmad berharap momentum ini dimanfaatkan oleh pemerintah, masyarakat, dan pengusaha di Indonesia untuk bergerak bersama. Mengurangi ketergantungan produk impor. Terutama impor bahan baku.
 
Ini hanya bisa terjadi jika masing-masing pihak didalamnya memiliki kepercayaan (trust) yang kuat. “Ya, kalau saya perhatikan apa yang dilakukan pemerintah sudah banyak dalam rangka mengatisipasi. Tinggal bagaimana kita meyakinkan masyarakat mengajak semua untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh pemerintah, kita bangun kepercayaan dulu," tutur Rachmad.
 
Politisi dan legislator dari Partai Nasdem ini juga menegaskan bahwa ini peluang Indonesia memperkuat industri sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan kelautan. Misalnya, Indonesia dikenal kaya dengan komoditas rempah-rempah. Nah, jamu atau produk herbal kini sangat diminati pasar internasional. Indonesia punya kesempatan unggul dalam persaingan ekspor produk herbal.
 
“Itu dulu yang kita bangun menjadi kekuatan. Kita bisa wujudkan nilai tambah negara kita dengan produk bahan baku yang sudah ada di dalam negeri”, kata Rachmad.
 

(ADM)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif