Ilustrasi kegiatan ekspor. Foto: MI/Ramdani
Ilustrasi kegiatan ekspor. Foto: MI/Ramdani

AS Terapkan 5,9% Bea Masuk Produk Menara Angin Indonesia

Ekonomi impor Kementerian Perdagangan
Ilham wibowo • 19 Oktober 2020 16:48
Jakarta: Departemen Perdagangan Amerika Serikat (US Department of Commerce/USDOC) mengeluarkan putusan akhir penyelidikan anti subsidi terhadap produk menara angin (wind tower) asal Indonesia dengan margin subsidi sebesar 5,9 persen.
 
Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag Pradnyawati mengatakan bahwa keputusan AS yang dinilai sepihak tersebut bakal berdampak pada produsen cut to length steel plate (CTL), bahan baku utama menara angin di Tanah Air.
 
"Dengan besaran bea masuk imbalan tersebut, Indonesia berharap ekspor ke AS tidak terlalu terganggu," kata Pradnyawati melalui keterangan tertulisnya, Senin, 19 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelum muncul keputusan mengikat, kata Pradnyawati, upaya pembelaan membantah tudingan Pemerintah AS telah dilakukan sebelumnya. Dukungan telah dihimpun meliputi Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM, Kementerian Hukum & HAM, BUMN, PLN, EximBank, dan Penjaminan Infrastruktur Indonesia.
 
"Kami meminta banyak dokumen dan data strategis Krakatau Steel dan Krakatau Posco untuk kepentingan penyelidikan di tengah kesibukan mereka membenahi kondisi internal,” paparnya.
 
Pradnyawati menuturkan, langkah pembelaan Pemerintah Indonesia di koridor penyelidikan berakhir seiring selesainya penyelidikan USDOC. Situasi ini dinilai tidak adil bagi Indonesia lantaran dikaitkan dengan tuduhan subsidi hulu atau upstream subsidy.
 
Adapun bea masuk imbalan mulai diberlakukan berdasarkan final order yang dikeluarkan Pemerintah AS pasca putusan affirmative US International Trade Commission (USITC), yaitu adanya kerugian di industri wind tower AS akibat impor bersubsidi.
 
"Untuk isu munculnya upstream subsidy, saat ini jalur pembelaan lanjutan yang bisa ditempuh perusahaan adalah gugatan ke Court of International Trade di AS," tutur Pradnyawati.
 
Meski Indonesia punya satu produsen wind tower, prospeknya menunjang kinerja ekspor nasional yang masih sangat bagus terutama ke pasar AS. Ekspor produk tersebut tembus USD90 juta pada 2019 atau naik tajam dari 2018 yang tercatat sebesar USD64 juta.
 
Hingga saat ini, AS merupakan pasar utama tujuan ekspor produk wind tower Indonesia dengan pangsa pasar ekspor mencapai 81 persen pada 2019. Pada periode Januari-Agustus 2020 terjadi peningkatan ekspor menjadi sebesar USD59,3 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD55,9 juta.
 
Pada 2019, Indonesia menduduki posisi ketiga sebagai negara pengekspor produk wind tower ke AS dengan jumlah 60 ribu ton setelah Korea Selatan (67 ribu ton), dan Vietnam (65 ribu ton).
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif