Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. FOTO: BKPM
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. FOTO: BKPM

Jadi Pusat Produsen, Bahlil Pamer Ada 7 Negara Mau Investasi Mobil Listrik di RI

Ekonomi investasi mobil listrik BKPM Ekonomi Indonesia Kendaraan Listrik Kementerian Investasi
Eko Nordiansyah • 17 September 2021 17:19
Jakarta: Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia memastikan investasi mobil listrik di Indonesia tidak hanya berasal dari Korea Selatan saja. Bahkan saat ini ia menyebut ada enam hingga tujuh negara lain yang menyatakan minat investasi kendaraan listrik di Indonesia.
 
"Jadi ini sekitar enam atau tujuh negara yang akan masuk ke Indonesia. Makanya Indonesia akan kita jadikan sebagai negara pusat produsen baterai mobil," kata dia, dalam video conference, Jumat, 17 September 2021.
 
Konsorsium Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution sudah mulai membangun pabrik baterai mobil listrik. Selain itu, ada investasi yang sudah mencapai tahap perjanjian bisnis pengembangan EV battery yaitu produsen baterai kendaraan listrik asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bahlil menambahkan, pemerintah tidak ingin memberi ruang hanya kepada satu negara saja untuk industri mobil listrik ini. Setelah Korea Selatan dan Tiongkok, ia menyebut, ada negara Eropa yang juga tengah dalam tahap penjajahan rencana investasi mobil listrik, namun enggan dibeberkannya.
 
"Kalau sudah teken baru diumumkan atau minimal sudah diyakini benar masuk baru kita umumkan. Jadi Eropa pun akan masuk. Tiongkok pun sudah teken CATL. Kemudian ada salah satu negara lagi di Asia Tenggara yang ini akan masuk mungkin Oktober saya teken MoU-nya, baru saya umumkan," ungkapnya.
 
Melalui kerja sama dengan banyak negara, ia meyakini, Indonesia akan menjadi negara pusat produsen baterai mobil dunia. Dengan hampir 26 persen bahan baku nikel yang dikuasai oleh Indonesia, Bahlil membayangkan Indonesia seharusnya menjadi negara besar untuk produksi mobil listrik ini.
 
"Jadi tidak benar kalau cuma Korea saja, enggak boleh ada satu negara pun yang mengatur Indonesia, enggak boleh. Jadi kita memberikan ruang kompetisi yang fair. Kita harus mampu menciptakan nilai tambah di Indonesia," pungkas dia.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif