Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Setelah Vaksinasi, Pemerintah Diminta Terus Pantau Mobilitas Masyarakat

Ekonomi vaksin covid-19 protokol kesehatan
Suci Sedya Utami • 11 Januari 2021 20:06
Jakarta: Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Andree Surianta mengatakan vaksin bukanlah pengganti kebijakan penanganan covid-19, melainkan menjadi pelengkap kebijakan pengendalian yang sudah ada.
 
Tak bisa dipungkiri, salah satu efek samping psikologis dari vaksinasi yakni menciptakan rasa aman yang palsu. Hal ini membuat penerima vaksin bisa saja langsung melupakan protokol kesehatan setelah disuntik karena merasa sudah memiliki kekebalan. Padahal, vaksin butuh beberapa minggu untuk bekerja.
 
Mempertimbangkan resiko ini menurut Andree, beberapa kebijakan pengendalian pandemi perlu segera diperhatikan seiring dengan digulirkannya vaksinasi, di antaranya peningkatan kapasitas pelacakan covid-19, pengetatan protokol kesehatan selama vaksinasi, dan meluruskan penggunaan tes cepat (rapid test) antibodi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia bilang, vaksin covid-19 yang beredar sekarang ini kebanyakan memerlukan dua dosis terpisah untuk menghasilkan perlindungan yang optimal. Vaksin Pfizer atau BioNTech, misalnya, hanya memberikan tingkat perlindungan sedikit di atas 50 persen setelah penyuntikkan pertama. Angka ini baru akan naik ke 90 persen setelah penyuntikkan dosis kedua tiga minggu kemudian. Hal ini menandakan bahwa kekebalan efektif tidak serta-merta muncul setelah dosis pertama.
 
"Jadi, butuh waktu sekitar satu bulan sebelum perlindungan optimal terbentuk. Vaksin lainnya dari Moderna, AstraZeneca/Oxford, dan Sinovac juga memerlukan dua dosis per orang dengan selang waktu 2-4 minggu," kata Andree dalam keterangan resmi, Senin, 11 Januari 2021.
 
Selain itu, sejauh ini tidak ada vaksin covid-19 yang seratus persen efektif. Memperhitungkan berbagai kemungkinan ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika (CDC) pun tetap menyarankan penerima vaksin untuk menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak walaupun sudah menerima dua dosis vaksin.  
 
Jika masyarakat lengah dan menghentikan protokol kesehatan terlalu dini, bukan tidak mungkin vaksinasi massal malah akan diiringi percepatan penambahan kasus positif. Vaksin perlu dipahami sebagai salah satu alat pelengkap untuk mengendalikan laju penyebaran covid-19, dan bukan solusi akhir yang menggantikan kebijakan kesehatan yang sudah ada.
 
Keberadaan vaksin, lanjut Andree, tetap harus dibarengi dengan perbaikan metode diagnosa, peningkatan kapasitas layanan kesehatan, dan internalisasi protokol kesehatan sebagai gaya hidup baru.
 
"Kebijakan yang memastikan semua metode pengendalian ini bekerja bersama akan membentuk kerangka pengendalian pandemi yang menyeluruh, dan memberikan kinerja terbaik dalam mempercepat pemulihan dari krisis kesehatan terbesar abad ini," pungkas Andree.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif