Kementerian BUMN akan tutup 7 perusahaan karena sering merugi. Foto: Dok/Metro TV
Kementerian BUMN akan tutup 7 perusahaan karena sering merugi. Foto: Dok/Metro TV

Metro Pagi Primetime

Penutupan 7 Perusahaan BUMN yang Kerap Merugi Dinilai Langkah Tepat

Ekonomi BUMN Kementerian BUMN
MetroTV • 25 September 2021 14:16
Jakarta: Kementerian BUMN akan menutup tujuh perusahaan BUMN yang kondisinya bangkrut dan sudah tidak lagi dapat ditolong. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan, hal tersebut sebagai langkah yang tepat.
 
Perusahaan-perusahaan tersebut, menurut Tauhid, selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Merger bagi beberapa perusahaan dari ketujuh perusahaan tersebut juga dianggap langkah yang efektif.
 
Terdapat dua poin penting yang menjadi tugas perusahaan BUMN. Pertama, sebagai entitas bisnis untuk bisa menghasilkan profitabilitas. Kedua, sebagai agen pembangunan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ketika dua tugas ini tidak ada satupun yang dilakukan, apalagi sebagai entitas bisnis merugi. Menurut kami memang sudah tidak bisa dipertahankan," kata Tauhid dalam tayangan Metro Pagi Primetime di Metro TV, Sabtu, 25 September 2021.
 
Selain itu, ketujuh BUMN hanya memberikan sumbangan yang relatif kecil kepada keuangan negara. Malah kerap meminta support dari Kementerian BUMN agar perusahaannya dapat tetap berjalan dengan baik dan dapat memenuhi hak-hak karyawannya.
 
Tauhid menekankan adanya risiko yang harus diperhatikan ketika akan dilakukan penutupan atau merger ke perusahaan BUMN lainnya. Risiko yang kecil misalnya seperti masih ada manajemen yang belum diselesaikan.
 
"Risiko dari setiap perusahaan memang pasti ada, misalnya punya manajemen yang belum diselesaikan, ada kontrak dan sebagainya yang mungkin relatif kecil," jelasnya.
 
Permasalahan aset juga dikatakan penting. Mengingat masih cukup banyak aset BUMN yang bisa dimanfaatkan sebagai modality atau dalam rangka penguatan struktur keuangan. Kemudian risiko yang berat adalah terkait tenaga kerja yang tidak boleh dibiarkan begitu saja. (Widya Finola Ifani Putri)
 
 
 
(MBM)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif